UPER Dorong Kemandirian Warga Desa Barengkok Kelola Sampah dengan Komposter Putar

InShot_20250827_151202253

UPER Dorong Kemandirian Warga Desa Barengkok Kelola Sampah dengan Komposter Putar

BOGOR | Fokuskota – Universitas Pertamina (UPER) menghadirkan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui program Gerakan Kompos Mandiri Desa Barengkok. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas program studi.

Data nasional mencatat, sekitar 62 persen dari 70 juta ton sampah per tahun adalah sampah organik, namun sebagian besar belum tertangani dengan baik. Di Kabupaten Bogor sendiri, timbulan sampah pada 2024 mencapai 2.766 ton per hari. Angka ini menjadi alarm penting akan perlunya pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Menjawab tantangan tersebut, tim UPER memperkenalkan “Komposter Putar”—alat pengolahan sampah organik yang sederhana, ergonomis, dan ramah lingkungan. Inovasi ini dihadirkan agar warga dapat mengelola limbah organik secara mandiri di rumah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah.

“Desa Barengkok dipilih karena masyarakatnya memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan, namun akses terhadap teknologi pengelolaan sampah masih terbatas. Komposter putar kami rancang agar mudah digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga warga lanjut usia. Harapannya, setiap keluarga bisa mengolah sampah organik langsung dari sumbernya,” jelas Adhitya Ryan, Ketua Tim PkM UPER.

Komposter putar dirancang dari bahan lokal yang mudah diperoleh. Berbentuk tong berporos dengan rangka besi dan tuas pemutar, alat ini memungkinkan pencampuran bahan organik lebih cepat dan merata. Berbeda dengan komposter statis, desain tertutup rapat pada komposter putar mampu mengurangi bau tak sedap serta mencegah serangga masuk, sehingga nyaman digunakan bahkan di kawasan padat penduduk.

Proses pengomposan juga jauh lebih singkat. “Dengan komposter putar, pupuk kompos bisa dihasilkan hanya dalam 2 sampai 4 minggu, sedangkan metode konvensional biasanya butuh 2 hingga 3 bulan. Sistem rotasi membantu sirkulasi udara dan dekomposisi lebih optimal,” tambah Ryan.

Produk kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebun rumah, lahan pertanian, hingga dijual sebagai tambahan penghasilan warga.

Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari komitmen universitas dalam mengembangkan 11 Center of Excellence (CoE), khususnya pada bidang energi, lingkungan, dan keberlanjutan.

“Komposter putar menjadi bukti bahwa riset dan pembelajaran lintas disiplin dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Inovasi ini tidak hanya mendorong kemandirian, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan,” ungkap Prof. Wawan. (Hetti)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *