DEPOK | FOKUSKOTA.COM – Godong ijo menjadi tuan rumah perayaan istimewa dengan pembukaan resmi Durian Seeker, tempat yang diharapkan menjadi titik temu bagi pecinta durian dan penikmat buah-buah eksotis di Indonesia. Dalam acara yang diisi sambutan penuh semangat dari para pemimpin di balik proyek ini, terungkap visi besar untuk mengangkat potensi ekonomi durian Indonesia dan memberikan edukasi kepada publik.
Chandra Gunawan Hendarto, CEO dari Godong ijo membuka acara dengan kesukaan yang terluar karena banyaknya teman dan tamu yang hadir. “Sekarang ini teman-teman banyak yang jadi perwira swasta, mudah-mudahan semuanya bisa mendukung tempat ini,” ujarnya pada Jum’at (12/12)
Menyampaikan visi jangka panjang, Chandra mengungkapkan bahwa Durian Seeker tidak akan berhenti hanya pada durian. “Kita mimpinya bukan cuman durian aja, tapi akan ada buah-buah eksotis lainnya, jadi teman-teman bisa supply dan kita bantu menjualkan di sini,” jelasnya.
Meskipun mengakui bahwa tempat ini belum siap 100% karena baru beroperasi seminggu, Chandra menjanjikan pengalaman spesial bagi tamu. “Ada yang istimewa nanti pizza durian Semua orang bisa mencoba, karena durian yang kita sajikan benar-benar oke,” tegasnya
Sigit Purwanto, sosok yang memiliki peran penting dalam pengembangan komunitas durian, berbagi perjalanan panjangnya dalam dunia durian selama 8 tahun. Mulai dari menanam hingga panen, dia melihat durian sebagai komoditas yang memiliki potensi luar biasa. “Durian Sumatera sudah menjadi komoditas internasional, nilai ekspornya paling tinggi di dunia sama dengan montong dan lainnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan betapa besar manfaat ekonomi durian bagi petani. “Harga di petani berkisar 120-200 ribu per kilo. Satu pohon bisa menghasilkan 10 buah (sekitar 2 kiloan) sehingga mencapai 3 juta, dan kalau umur sudah 7 tahun bisa sampai 30-40 buah – itu 30 juta per pohon! Sangat membantu petani, terutama para orang tegalan,” katanya.
Menurut Sigit, durian menjadi solusi karena ekosistemnya jarang diperhatikan pemerintah yang lebih fokus pada sawah, padahal potensi ekonomi durian jauh lebih besar.
Sigit juga mengungkapkan keragaman durian Indonesia yang luar biasa. “Sebenarnya, Indonesia punya 120 varietas durian unggul di seluruh negeri. Meskipun sekarang pasar lebih mengenal Musang King dari Malaysia atau montong dari Thailand, kita sudah membudidayakan beberapa varietas unggul seperti tangking, duri hitam, bawork, dan candi dari Thailand,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa Durian Seeker akan menyuguhkan durian dari seluruh Indonesia mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera sesuai musimnya.
“Inovasi kita berbeda dengan platform lain kita lebih memberikan edukasi. Kita punya jaringan yang luas di seluruh Indonesia, jadi bisa bawa durian unggul apa saja ke sini,” katanya.
Kolaborasi membuat pizza durian juga menjadi bagian dari upaya memaksimalkan nilai durian. “Kita mau buka wawasan bahwa durian bisa diolah jadi hal yang baru dan menarik,” tegasnya.
Harapan Sigit adalah agar warga Jakarta mengenal keragaman dan kualitas durian Indonesia, sehingga negara bisa mandiri dan tidak lagi menjadi importir. “Kita harus apresiasi karya pertanian kita sendiri. Tujuan kita adalah agar petani senang, pedagang senang, dan yang beli juga puas,” ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa di Indonesia tidak ada “musim durian” yang pasti durian ada sepanjang tahun, hanya musimnya bergeser dari Aceh sampai Jayapura.
Di akhir acara, salah satu sosok kunci di balik Durian Seeker berbagi cerita perjalanan panjangnya dalam membangun brand ini. “Saya udah cukup lama membuat brand ‘Durian Traveller’ yang berbasis komunitas kita bareng-bareng berusaha, dan sekarang sudah berjalan dengan cukup berhasil,” katanya. Saatnya tiba untuk mandiri dan menciptakan sesuatu yang baru dengan suasana yang berbeda.
Ceritanya yang lucu tentang menghubungi Pak Canda hanya dalam 2 jam dan langsung mendapatkan persetujuan, serta kesulitan mencari spot di hari Jumat.
“Saya kayak ikan mas kehilangan oksigen, tapi berkat dukungan teman-teman dari komunitas, kita bisa selesai bikin tempat ini cuma dalam 3 hari padahal rata-rata butuh 2 bulan! Luar biasa,” ujarnya
Dengan lahan parkir yang cukup luas (muat 150 kendaraan), dia berharap Durian Seeker tidak hanya menjadi tempat beli durian, tapi juga pusat edukasi dan komunitas. “Ada ruangan banyak untuk ngumpul, dan nanti akan ada banyak ahli yang datang berbicara. Semoga setiap minggu kita bisa berkumpul di sini untuk membahas masa depan durian di Indonesia,” tutupnya(ht)








