Budikdamber Jadi Senjata Warga Depok Hadapi Lonjakan Harga Pangan, UPER

IMG-20260510-WA0025

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Ancaman kenaikan harga pangan akibat ketidakstabilan global mulai dirasakan masyarakat di wilayah penyangga ibu kota. Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Pertamina (UPER) mengambil langkah nyata dengan memberdayakan warga melalui program Budikdamber atau Budidaya Ikan dalam Ember sebagai solusi ketahanan pangan keluarga berbasis komunitas.

Program tersebut dijalankan di RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Kota Depok, kawasan padat penduduk yang mayoritas dihuni keluarga pensiunan dan masyarakat dengan keterbatasan lahan. Kehadiran program ini menjadi jawaban atas kekhawatiran warga terhadap melonjaknya harga kebutuhan pokok yang dipicu kenaikan biaya energi dan distribusi pangan.

Isu ketahanan pangan sendiri mengemuka usai pernyataan Presiden RI dalam KTT BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, pada 7 Mei lalu yang menyoroti pentingnya ketahanan energi di tengah dinamika global. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi rentan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pertamina, Evi Sofia, mengatakan bahwa Posyandu dipilih sebagai pusat edukasi karena memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan keluarga di tingkat lingkungan.

“Posyandu merupakan simpul sosial yang sangat kuat di masyarakat. Dari sinilah kami mengubah isu ketahanan pangan menjadi gerakan nyata agar warga mampu memproduksi pangan sendiri dan tetap bertahan di tengah gejolak harga pasar,” ujar Evi.

Dalam program tersebut, warga diperkenalkan pada sistem Budikdamber yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman hidroponik dalam satu media sederhana. Melalui metode ini, masyarakat dapat menghasilkan sumber protein dan sayuran secara bersamaan hanya dengan memanfaatkan teras rumah yang sempit.

Selain hemat tempat, sistem ini juga dinilai sangat efisien karena menerapkan sirkulasi nutrisi alami. Limbah dari budidaya ikan dimanfaatkan menjadi pupuk tanaman, sehingga penggunaan air dan biaya perawatan dapat ditekan seminimal mungkin.

Program yang mulai berjalan sejak akhir 2025 itu mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga RW 09 kini perlahan mengubah ruang terbatas di rumah mereka menjadi unit produksi pangan mandiri yang produktif dan bernilai ekonomis.

“Di tengah tekanan ekonomi global, kemandirian pangan menjadi benteng paling penting bagi keluarga. Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat dapat mengurangi pengeluaran kebutuhan harian secara signifikan,” tambah Evi.

Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, mengaku program tersebut membawa dampak langsung bagi kehidupan warga, khususnya para pensiunan yang sebelumnya kesulitan menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Budikdamber membuat warga kami lebih produktif dan berdaya. Selain membantu kebutuhan pangan keluarga, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan optimisme baru di lingkungan,” ungkap Endang.

Sementara itu, Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi konkret atas persoalan global yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga. Ketahanan energi dan pangan tidak bisa hanya menjadi wacana, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memperkuat ekonomi keluarga dari tingkat paling dasar,” tegas Prof. Djoko.

Program ini juga menjadi bagian dari kontribusi Universitas Pertamina dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin kedua tentang Tanpa Kelaparan serta poin kedelapan mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *