DEPOK | FOKUSKOTA.com – Ukurannya kecil, tetapi perannya mulai diperhitungkan dalam menghadapi persoalan sampah di Kota Depok. Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) kini menjadi salah satu andalan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok untuk mengolah sampah organik sebelum berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung.
Bagi DLHK Depok, keberadaan maggot bukan sekadar bagian dari budidaya. Hewan kecil tersebut dinilai mampu menjadi solusi dalam mengurangi timbulan sampah organik yang selama ini mendominasi volume sampah harian.
Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, bahkan menyebut maggot sebagai “sahabat” yang membantu pihaknya mengatasi persoalan sampah organik.
“Maggot ini benar-benar menjadi sahabat kami di DLHK. Dalam waktu singkat, mereka mampu mengurai sisa makanan, buah-buahan, dan sayuran menjadi kompos yang bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi volume sampah yang masuk ke landfill,” ujar Reni, Selasa (28/7/2026).
Menurut Reni, pemanfaatan maggot menjadi bagian dari langkah DLHK dalam mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga mengubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.
Sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi maggot. Dari proses tersebut, muncul produk turunan berupa kasgot atau bekas maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.
Dengan konsep tersebut, sampah tidak lagi berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari rantai ekonomi sirkular.
“Selain mengurangi beban TPA, hasil sampingan dari budidaya maggot ini memiliki nilai jual. Ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular di mana sampah diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat,” kata Reni.
DLHK Kota Depok pun berupaya memperluas pemanfaatan maggot dengan mengembangkan pusat pembibitan dan budidaya dalam skala menengah. Program tersebut dirancang dengan melibatkan kelompok masyarakat dan bank sampah.
Langkah ini diharapkan tidak hanya berdampak terhadap pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Budidaya maggot dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif, sementara produk turunannya berpotensi memiliki nilai jual.
Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat. Sebab, keberhasilan pengolahan sampah organik dengan metode apa pun sangat bergantung pada proses pemilahan sejak dari sumbernya.
Sampah organik yang dipisahkan dari sampah anorganik akan lebih mudah diolah. Karena itu, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu kunci agar program pengelolaan sampah berbasis maggot dapat berjalan secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat program tersebut, DLHK juga menggandeng akademisi dan praktisi lingkungan guna memberikan pendampingan teknis kepada pengelola bank sampah maupun komunitas peduli lingkungan.
Edukasi yang diberikan mencakup teknik budidaya dan perawatan maggot, pengelolaan pakan, hingga pengembangan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi, seperti pupuk organik dan maggot kering untuk kebutuhan pakan ternak.
Jika dikembangkan secara serius, pola ini berpotensi menciptakan sebuah siklus pengelolaan sampah yang lebih produktif. Sampah organik diolah, maggot tumbuh, residunya dimanfaatkan, sementara masyarakat memperoleh pengetahuan dan peluang ekonomi baru.
Bagi Kota Depok yang terus menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah, inovasi semacam ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA.
Reni berharap pemanfaatan maggot dapat ikut mempercepat pencapaian target pengurangan dan penanganan sampah sebagaimana arah kebijakan nasional dalam pengelolaan sampah.
Pada akhirnya, perjuangan melawan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi besar dan mahal. Terkadang, solusi bisa datang dari sesuatu yang selama ini dipandang sebelah mata.
Di Depok, makhluk kecil bernama maggot kini tengah diberi peran besar: membantu mengubah sampah organik menjadi sesuatu yang lebih berguna, sekaligus meringankan beban TPA Cipayung.(Ht)








