Parenting Connect 2026: Generasi Emas Indonesia Tak Cukup Dibangun di Sekolah, Fondasinya Dimulai dari Rumah

IMG-20260728-WA0015

DEPOK | FOKUSKOTA.com –Wacana membangun generasi emas Indonesia menuju 2045 kembali menegaskan satu hal penting: masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan di sekolah, tetapi juga oleh bagaimana mereka dibesarkan dan didampingi di rumah.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Parenting Connect 2026 yang digelar di aula kantor Kecamatan Sukmajaya Depok, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk menguatkan kesadaran orang tua bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.

Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli, menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari lingkungan keluarga dengan menciptakan suasana rumah yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.

“Generasi emas tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang yang dimulai dari keluarga. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan teladan, membangun komunikasi yang terbuka, serta mendampingi anak dalam menghadapi perkembangan zaman dan tantangan teknologi,” ujar Christine,

Ia menilai, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan anak secara materi. Anak juga membutuhkan perhatian, pendampingan, serta kehadiran orang tua dalam setiap fase pertumbuhan mereka.

“Anak-anak kita adalah calon generasi penerus bangsa. Karena itu, kita harus memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, baik secara fisik maupun mental, serta memiliki karakter dan nilai-nilai positif yang kuat,” katanya.

Senada, Ketua TP PKK Kecamatan Sukmajaya, Dra. Nelda Purnadia Wardhani, menegaskan bahwa keluarga memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas generasi masa depan.

Menurut Nelda, pola pengasuhan yang baik dapat dibangun melalui tiga pilar utama, yakni asuh, asih, dan asah. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses mendampingi anak.

“Asuh berarti memastikan kebutuhan dasar dan perlindungan anak terpenuhi. Asih adalah memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Sedangkan asah adalah memberikan pendidikan, stimulasi, dan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya,” ungkap Nelda.

Ia juga mengingatkan bahwa orang tua merupakan teladan pertama yang akan ditiru anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak belajar dari apa yang mereka lihat di rumah. Karena itu, orang tua harus menjadi contoh dalam sikap, perilaku, komunikasi, dan kebiasaan sehari-hari. Keteladanan yang diberikan di rumah akan menjadi bekal penting bagi anak ketika mereka tumbuh dan berinteraksi di lingkungan yang lebih luas,” ujarnya.

Menurut Nelda, tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks, terutama dengan pesatnya perkembangan teknologi digital. Karena itu, orang tua dituntut tidak hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman untuk bercerita dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Pendampingan terhadap anak harus dilakukan secara aktif dan bijak. Kita tidak bisa sepenuhnya melarang anak menggunakan teknologi, tetapi harus mendampingi dan mengarahkan agar teknologi dapat memberikan manfaat bagi tumbuh kembang mereka,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diajak memperkuat budaya literasi di lingkungan keluarga. Membaca bersama, berdiskusi, mendengarkan anak, dan meluangkan waktu berkualitas dinilai menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan anak.

Sementara itu, pembicara Intan Erlita, M.Psi, turut memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai pentingnya pola pengasuhan positif dalam membangun karakter dan ketahanan mental anak.

Pesan utama yang dibawa dalam Parenting Connect 2026 adalah bahwa investasi terbesar bangsa bukan semata-mata pembangunan fisik, melainkan membangun manusia yang berkualitas sejak dari keluarga.

Bonus demografi Indonesia menuju 2045 hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya tumbuh dengan kualitas kesehatan, kecerdasan, karakter, dan integritas yang kuat.

Karena itu, keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan anak tumbuh di lingkungan yang hangat, aman, penuh kasih sayang, dan mendorong rasa ingin tahu.

Parenting Connect 2026 pun menjadi pengingat bahwa sebelum generasi emas berbicara tentang masa depan Indonesia, mereka terlebih dahulu membutuhkan rumah yang mampu menjadi tempat pertama untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan nilai-nilai kehidupan.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *