Korban Bertambah, Kasus Dugaan Pelecehan Pelatih Voli Depok Kian Terbuka

IMG-20260425-WA0044

DEPOK| FOKUSKOTA.com – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret seorang pelatih voli berinisial A kembali mencuat dan menyita perhatian publik. Setelah laporan orang tua korban berinisial Bil (12) masuk ke aparat penegak hukum, kini dua korban lain akhirnya memberanikan diri angkat bicara, mengungkap pengalaman yang selama ini mereka pendam.

Dua korban tersebut, Zul (19) dan Ar (18), mengaku mengalami perlakuan tidak pantas sejak masih aktif sebagai atlet muda di klub voli tempat pelaku melatih. Mereka menyebut tindakan tersebut terjadi berulang kali dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan disertai tekanan psikologis dan ancaman.

Menurut pengakuan mereka, pelaku kerap mendekati korban saat sesi latihan berlangsung. Dengan dalih kedekatan pelatih dan atlet, pelaku melakukan tindakan yang melanggar batas, yang membuat korban merasa tidak berdaya untuk melawan.

“Setiap latihan, selalu ada momen dia mendekat. Kami sudah mencoba menghindar, tapi situasinya sulit karena dia pelatih kami,” ujar Zul.

Tidak hanya terjadi di lapangan, dugaan tindakan tersebut juga berlangsung di luar area latihan. Korban mengungkap pernah diajak ke rumah pelaku dengan alasan pembinaan teknik, namun justru mengalami perlakuan yang membuat mereka trauma.

Lebih jauh, keduanya juga mengaku pelaku berusaha mengontrol kehidupan sosial mereka. Interaksi dengan teman laki-laki lain dibatasi, dan setiap bentuk kedekatan dengan orang lain sering memicu kemarahan pelaku.

“Kalau kami terlihat dekat dengan orang lain, langsung dimarahi. Seolah-olah kami harus selalu patuh,” kata Ar.

Tekanan tersebut diperparah dengan adanya ancaman yang membuat korban memilih diam selama bertahun-tahun. Rasa takut dan kekhawatiran tidak dipercaya menjadi alasan utama mereka tidak segera melapor.

Yang menambah kekecewaan, Zul dan Ar menyebut bahwa dugaan kasus ini sebenarnya sudah pernah disampaikan ke pengurus klub dan pihak PBVSI Depok sejak 2024. Bahkan sempat dilakukan proses internal, namun hasilnya dinilai tidak memberikan keadilan.

“Waktu itu sempat ada pembahasan dan janji akan ada tindakan tegas. Tapi sampai sekarang, pelaku masih aktif melatih,” ungkap Zul.

Keberanian mereka untuk berbicara saat ini dipicu oleh munculnya korban baru yang masih di bawah umur. Keduanya mengaku tidak ingin kejadian serupa terus berulang dan menimpa atlet lain.

“Kami tidak ingin ada korban berikutnya. Kalau kami diam, ini bisa terus terjadi,” tegas Ar.

Kini, keduanya menyatakan siap mendukung proses hukum dengan memberikan keterangan lengkap kepada pihak kepolisian. Mereka berharap kasus ini ditangani secara serius dan transparan, serta menjadi momentum pembenahan sistem perlindungan atlet, khususnya usia muda.

Sementara itu, hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman atas laporan yang masuk. Pihak klub maupun pengurus terkait belum memberikan pernyataan resmi atas dugaan pembiaran yang disorot dalam kasus ini.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *