Holik Tegaskan Ciliwung Nadi Air Depok, Susur Sungai dan Tanam Pohon Jadi Aksi Nyata Jaga Lingkungan

IMG-20260330-WA0009

Holik Tegaskan Ciliwung Nadi Air Depok, Susur Sungai dan Tanam Pohon Jadi Aksi Nyata Jaga Lingkungan

DEPOK | FOKUSKOTA .com

Direktur Utama PT Tirta Asasta Depok,Abdul Holik, menegaskan bahwa Sungai Ciliwung merupakan salah satu urat nadi kehidupan Kota Depok yang harus dijaga bersama. Karena itu, peringatan Hari Air Sedunia 2026 tidak hanya diisi dengan seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata berupa susur sungai, pengangkatan sampah, dan penanaman pohon di sepanjang kawasan aliran sungai, Senin (30/3/2026).

Kegiatan tersebut dimulai dari kawasan Kampung Serab GDC dan berakhir di SMP 34 Depok, dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari jajaran komisaris, unsur dewan, perwakilan Pemerintah Kota Depok, jajaran internal Tirta Asasta, hingga peserta dari luar daerah yang ikut ambil bagian dalam aksi kepedulian lingkungan tersebut.

Menurut Holik, kegiatan ini sejatinya merupakan bagian dari peringatan Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret, namun pelaksanaannya diundur ke 30 Maret 2026 karena bertepatan dengan momentum Idulfitri.

“Hari ini kita melaksanakan susur Sungai Ciliwung dalam rangka Hari Air Sedunia. Karena kemarin bertepatan dengan Idulfitri, maka kita laksanakan hari ini. Mudah-mudahan ini menjadi agenda tahunan yang terus mengingatkan kita bahwa sungai adalah sumber kehidupan yang harus kita jaga bersama,” ujar Holik.

Ia menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran publik bahwa Sungai Ciliwung memiliki fungsi vital sebagai sumber air baku utama bagi pelayanan air bersih di Kota Depok.

Holik menjelaskan, hingga saat ini Tirta Asasta memiliki dua sumber air utama, yakni Sungai Ciliwung dan Sungai Angke di kawasan Duren Seribu. Dari kedua sumber tersebut, Ciliwung menjadi salah satu penopang terbesar bagi kebutuhan air bersih masyarakat.

“Sumber air utama kita adalah Ciliwung. Selain itu ada juga Sungai Angke di Duren Seribu. Karena itu, menjaga kebersihan sungai ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keberlangsungan pelayanan air bersih untuk masyarakat Kota Depok,” katanya.

Dalam kegiatan susur sungai ini, peserta turun langsung ke lapangan untuk mengangkat sampah yang ditemukan di sepanjang aliran Ciliwung. Sampah yang terkumpul pun beragam, mulai dari sampah organik, plastik, hingga benda-benda berukuran besar yang seharusnya tidak berada di sungai.

Holik mengungkapkan, masih banyaknya sampah yang ditemukan menjadi gambaran nyata bahwa persoalan lingkungan di bantaran sungai masih membutuhkan perhatian serius dan kesadaran bersama.

“Sampah di sungai ini masih sangat banyak, baik organik maupun nonorganik, terutama plastik. Kadang-kadang bahkan ditemukan benda-benda besar seperti kasur. Ini tentu memprihatinkan dan menjadi pengingat bahwa sungai kita belum sepenuhnya dijaga dengan baik,” ungkapnya.

Tak hanya aksi bersih sungai, kegiatan ini juga dikemas dalam bentuk lomba pengumpulan sampah. Para peserta yang berhasil mengumpulkan sampah dengan hasil terbaik akan mendapatkan hadiah, dengan juara pertama memperoleh sekitar Rp3 juta.

Namun, Holik menekankan bahwa penilaian tidak semata-mata berdasarkan berat sampah yang terkumpul, melainkan akan melalui proses verifikasi oleh dewan juri agar hasilnya benar-benar objektif dan sesuai ketentuan.

“Yang paling berat belum tentu langsung menang. Nanti diverifikasi oleh juri supaya benar-benar terlihat mana hasil yang paling baik dan paling valid. Jangan sampai yang berat ternyata isinya batu semua,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain susur sungai dan pengangkatan sampah, kegiatan ini juga diperkuat dengan aksi penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan ekosistem di sekitar aliran sungai.

Bagi Holik, penanaman pohon memiliki makna penting karena bukan hanya memperkuat kawasan bantaran sungai, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan lingkungan, memperbaiki kualitas udara, serta menjadi simbol komitmen menjaga keberlanjutan sumber air bagi generasi mendatang.

“Selain membersihkan sungai, kita juga melakukan penanaman pohon. Ini penting sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Jadi bukan hanya membersihkan yang ada hari ini, tetapi juga menanam harapan untuk masa depan,” tuturnya.

Tercatat, kegiatan ini diikuti oleh 42 peserta utama, ditambah unsur pendukung seperti tim rescue dan berbagai pihak lainnya, sehingga total peserta yang terlibat diperkirakan mencapai 45 hingga 50 orang.

Holik juga menjelaskan bahwa secara umum kondisi air Sungai Ciliwung masih cukup baik untuk diolah menjadi air bersih. Namun, tantangan terbesar biasanya muncul saat musim hujan atau ketika terjadi banjir, karena tingkat kekeruhan air meningkat dan berdampak pada proses produksi di instalasi pengolahan air.

“Secara rata-rata kondisi air Ciliwung masih cukup baik. Yang jadi kendala biasanya saat banjir, karena kekeruhannya tinggi sehingga kita tidak bisa produksi secara optimal. Tapi alhamdulillah, kondisi seperti itu tidak terlalu sering terjadi,” jelasnya.

Menurutnya, gangguan produksi akibat tingginya kekeruhan air hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. Karena itu, upaya menjaga ekosistem sungai tetap sehat sangat penting untuk memastikan pasokan air bersih tetap aman bagi masyarakat.

Terkait kebutuhan jangka panjang, Holik menilai bahwa pasokan air baku dari Sungai Ciliwung masih relatif aman untuk lima tahun ke depan. Sementara opsi penambahan sumber air dari kawasan lain seperti situ atau mata air kecil dinilai belum cukup memadai karena keterbatasan debit air.

“Untuk lima tahun ke depan, sumber air kita dari Ciliwung masih cukup aman. Kalau dari situ atau sumber air kecil lainnya, debitnya terlalu kecil. Kalau dipaksakan diambil, bisa cepat habis. Jadi memang Ciliwung ini harus kita jaga betul,” tegasnya.

Di akhir keterangannya, Holik mengajak masyarakat untuk mulai mengambil peran dari hal paling sederhana, yakni tidak membuang sampah sembarangan. Ia menegaskan bahwa sampah yang dibuang di lingkungan sekitar pada akhirnya akan bermuara ke sungai dan mencemari sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Kota Depok, bahkan masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk ikut melestarikan lingkungan. Minimal jangan membuang sampah sembarangan. Karena pada akhirnya, sampah itu akan masuk ke sungai juga,” ujarnya.

Ia pun berharap, dengan kerja sama yang kuat dari seluruh elemen, mulai dari wilayah hulu hingga hilir, Sungai Ciliwung suatu hari dapat kembali menjadi sungai yang bersih, sehat, dan membanggakan.

“Dulu sungai ini tempat orang mandi. Mudah-mudahan ke depan bisa seperti itu lagi. Tapi itu hanya bisa terwujud kalau ada kerja sama dari hulu sampai hilir, termasuk kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan,” tutup Holik.

Melalui aksi susur sungai, pengangkatan sampah, dan penanaman pohon, Tirta Asasta Depok ingin menegaskan bahwa menjaga air tidak cukup hanya lewat wacana, melainkan harus diwujudkan dalam langkah nyata.

Sebab, ketika sungai dijaga, yang dirawat bukan hanya lingkungan hari ini, tetapi juga masa depan air bersih Kota Depok.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *