DEPOK | FOKUSKOTA.com – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi titik refleksi penting bagi Kota Depok dalam melihat arah pembangunan pendidikan ke depan. Sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Depok dan juga team TP3D Iwan Setiawan, menilai Depok memiliki peluang besar menjadi kota pendidikan unggulan, namun di saat yang sama masih dihadapkan pada sejumlah tantangan mendasar.
Sebagai kota penyangga Daerah Khusus Jakarta dan bagian dari Jawa Barat, Depok memiliki posisi strategis baik secara geografis maupun sosial. Hal ini menjadikan Depok tidak hanya sebagai wilayah penyangga ibu kota, tetapi juga sebagai pintu gerbang perkembangan pendidikan di Jawa Barat.
Menurut Iwan, capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Depok yang masuk lima besar nasional menjadi indikator kuat bahwa fondasi pembangunan sumber daya manusia di kota ini cukup baik. Terlebih, meski secara administratif baru berusia 27 tahun, Depok memiliki sejarah panjang dalam tradisi pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Momentum Hardiknas ini penting untuk melihat secara jernih peluang dan tantangan pendidikan di Depok. Kita punya modal besar, tapi juga pekerjaan rumah yang tidak sedikit,” ujarnya.
Iwan memaparkan, salah satu peluang utama terletak pada tingginya literasi digital masyarakat. Lebih dari 80 persen warga Depok merupakan pengguna internet, yang menunjukkan kesiapan dalam mengakses informasi global serta perkembangan pendidikan berbasis teknologi.
Selain itu, keberadaan berbagai perguruan tinggi ternama menjadi kekuatan utama. Di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Islam Internasional Indonesia, Universitas Gunadarma, hingga Bina Sarana Informatika. Kehadiran kampus-kampus ini memperkuat Depok sebagai pusat lahirnya generasi intelektual.
Di tingkat dasar dan menengah, infrastruktur pendidikan juga tergolong lengkap. Berbagai sekolah negeri dan swasta, termasuk sekolah berbasis karakter, internasional, hingga keagamaan seperti Al Azhar dan Al Haraki, menjadi pilihan masyarakat.
Tak hanya itu, pendidikan informal seperti pesantren, lembaga kursus, dan pendidikan berbasis keterampilan juga berkembang pesat, memperkaya ekosistem pendidikan di Depok.
Namun di balik peluang tersebut, Iwan menegaskan masih ada tantangan serius, terutama dalam hal pemerataan akses pendidikan. Salah satu yang paling menonjol adalah keterbatasan jumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri.
“Jenjang SMA ini masih belum seimbang dengan kebutuhan. Padahal masyarakat membutuhkan akses pendidikan hingga tingkat menengah atas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, meskipun kewenangan SMA berada di tingkat provinsi, Pemerintah Kota Depok tetap harus proaktif mendorong solusi, termasuk menyiapkan lahan dan mengusulkan penambahan SMA negeri kepada pemerintah provinsi.
Selain itu, tantangan lain adalah memastikan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas dan karakter.
“Pendidikan tidak cukup hanya lengkap secara fasilitas. Harus ada kualitas, karakter, dan pemerataan. Itu yang menjadi kunci,” katanya.
Iwan menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya komitmen pemerintah dalam menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan.
“Pemerintah harus lebih fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kalau ini kuat, maka masa depan Depok juga akan kuat,” pungkasnya.(Hetti)








