Dari Puskesmas hingga Wisata Keberagaman, Sukmajaya Susun Peta Pembangunan Berbasis Kemanusiaan

IMG-20260130-WA0048

DEPOK | FOKUSKOTA.COM –  Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukmajaya yang digelar di Aula Kecamatan Sukmajaya, Jumat (30/1/2026), menjadi panggung pemaparan arah pembangunan yang tidak hanya menekankan infrastruktur, tetapi juga kualitas hidup dan harmoni sosial masyarakat.

Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli Tobing, S.STP, M.A., atau yang akrab disapa Mpok Itin, menegaskan bahwa pembangunan ke depan harus menyentuh kebutuhan paling mendasar warga, mulai dari layanan kesehatan, ruang interaksi sosial, hingga penguatan nilai keberagaman.

Sektor kesehatan menjadi sorotan utama. Mpok Itin mengungkapkan, hingga kini Kelurahan Cisalak dan Tirtajaya belum memiliki gedung puskesmas permanen. Pelayanan kesehatan masih mengandalkan Puskesmas Keliling dan posyandu, yang dinilai belum optimal untuk menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat.

“Pelayanan tetap berjalan, namun keberadaan gedung puskesmas permanen akan membuat akses kesehatan lebih layak, cepat, dan manusiawi bagi warga,” ujarnya.

Selain layanan kesehatan, penataan ruang publik juga menjadi agenda strategis. Taman Merdeka diusulkan untuk ditata ulang agar berfungsi sebagai ruang terbuka yang representatif dan terintegrasi dengan Sentra UMKM di Jalan Proklamasi. Konsep ini diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi warga sekaligus memperkuat fungsi taman sebagai ruang interaksi sosial.

Yang menarik, kawasan tersebut juga dirancang untuk menampung shelter kucing terlantar. Mpok Itin menilai persoalan hewan jalanan perlu ditangani secara terencana agar tidak berdampak pada kesehatan lingkungan.

“Shelter ini bukan hanya soal kepedulian pada hewan, tetapi bagian dari penataan lingkungan yang sehat dan tertib. Pengelolaannya akan melibatkan komunitas dan relawan agar berkelanjutan,” jelasnya.

Inovasi sosial lainnya adalah rencana pengembangan daycare khusus lansia. Dengan jumlah lansia yang cukup signifikan di Sukmajaya, Mpok Itin menilai mereka membutuhkan ruang berkegiatan dan bersosialisasi, bukan hanya layanan medis semata.

“Lansia juga perlu ruang kebersamaan, tempat saling menguatkan dan tetap aktif dalam komunitas,” tuturnya, sembari menyatakan kesiapan Sukmajaya jika ditunjuk sebagai lokasi proyek percontohan.

Di sisi pemerintahan, pembangunan kantor kelurahan di Sukmajaya, Mekarjaya, dan Tirtajaya turut menjadi prioritas. Sejumlah lokasi bahkan telah memiliki lahan dan Detail Engineering Design (DED), namun realisasinya masih bergantung pada kesiapan anggaran.

Persoalan banjir juga mendapat perhatian serius. Mpok Itin meminta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) menyusun kajian komprehensif berupa peta jalan dan linimasa penanganan banjir, mengingat dampaknya melintasi beberapa kelurahan seperti Bhaktijaya, Cisalak, Mekarjaya, dan Abadijaya.

“Banjir tidak bisa diselesaikan secara parsial. Kita butuh konsep besar agar penanganannya berkelanjutan dan tidak berpindah masalah,” tegasnya.

Dari sisi anggaran, tahun ini Kecamatan Sukmajaya masih memfokuskan alokasi Dana RW sebesar Rp300 juta per RW. Dari total sekitar Rp60 miliar usulan anggaran, hampir Rp40 miliar dialokasikan untuk 125 RW, sementara sisanya untuk kegiatan rutin dan program pendukung. Evaluasi skema menu wajib dan pilihan Dana RW pun diharapkan menghasilkan kebijakan yang lebih efektif ke depan.

Sementara itu, konsep wisata keberagaman didorong sebagai upaya memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat Sukmajaya yang heterogen. Program ini akan diwujudkan melalui festival budaya, bazar kuliner nusantara, pertunjukan seni, serta perayaan hari besar lintas budaya dan agama dengan melibatkan UMKM lokal.

“Wisata tidak harus keluar kota. Ketika warga bahagia, merasa memiliki, dan terhubung satu sama lain, itulah kekuatan Sukmajaya,” ungkap Mpok Itin.

Dengan beragam agenda tersebut, Kecamatan Sukmajaya diarahkan menjadi wilayah yang tidak hanya unggul dalam pelayanan dasar, tetapi juga mampu menghadirkan ruang hidup yang sehat, inklusif, dan berdaya saing. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat disebut menjadi kunci agar seluruh program benar-benar memberi manfaat nyata bagi warga. (Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *