DEPOK | FOKUSKOTA .com – Kecamatan Sukmajaya menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah seiring tingginya volume timbulan harian yang mencapai 145,4 ton. Angka tersebut menjadi alarm sekaligus dasar bagi pemerintah kecamatan dalam merumuskan langkah strategis yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 246 ribu jiwa, produksi sampah di wilayah ini didominasi oleh aktivitas rumah tangga, yang secara konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap total timbulan harian.
Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa ditangani dengan pendekatan biasa. Diperlukan strategi yang terukur dan berfokus pada pengendalian sampah sejak dari sumbernya.
“Data timbulan sampah ini menjadi dasar utama kami dalam menyusun kebijakan. Pendekatan yang kami dorong adalah berbasis lingkungan atau eco green, dengan fokus utama pada pengurangan sampah dari sumber,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemetaan data menunjukkan adanya wilayah dengan kontribusi sampah yang cukup tinggi, salah satunya Kelurahan Abadijaya. Kondisi ini menjadi perhatian khusus dalam menentukan prioritas penanganan.
Namun, persoalan tidak berhenti pada tingginya produksi sampah. Dari sisi operasional, kemampuan pengangkutan yang dimiliki saat ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi volume harian.
Kecamatan Sukmajaya mengoperasikan 21 unit armada yang terdiri dari truk tronton, dump truck, dan kendaraan pikap. Secara total, kapasitas angkut hanya mencapai sekitar 94 ton per hari dalam satu kali ritase.
Artinya, terdapat selisih sekitar 51 ton sampah yang berpotensi tidak terangkut jika pengangkutan hanya dilakukan sekali dalam sehari.
“Secara teori, kapasitas bisa ditingkatkan jika ritase dilakukan dua kali. Namun dalam praktiknya, ada berbagai kendala seperti waktu operasional, jarak tempuh, hingga kondisi armada yang harus diperhitungkan,” jelas Christine.
Di sisi lain, kompleksitas pengelolaan sampah juga dipengaruhi oleh beragam jenis sampah yang dihasilkan masyarakat. Mulai dari sampah organik, anorganik seperti plastik dan logam, hingga residu dan limbah bahan berbahaya rumah tangga seperti baterai dan obat-obatan.
Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih spesifik dan tersegmentasi dalam pengelolaan, agar setiap jenis sampah dapat ditangani dengan metode yang tepat.
Menjawab tantangan tersebut, Kecamatan Sukmajaya mendorong penguatan pengelolaan dari hulu melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pemilahan sampah di tingkat RT dan RW menjadi langkah awal yang dinilai krusial untuk menekan volume sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
Selain itu, optimalisasi peran TPS3R dan bank sampah terus diperkuat, baik dari sisi fasilitas maupun jejaring kerja sama dengan pihak pengolah.
“Kami menargetkan pengurangan sampah dari sumber minimal 10 hingga 20 persen. Ini penting untuk mengurangi beban pengangkutan dan menekan volume residu,” tegasnya.
Upaya tersebut juga tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
Dengan dominasi sampah organik, Sukmajaya dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan pengolahan berbasis kompos maupun pemanfaatan lain yang bernilai ekonomi.
Jika dikelola secara optimal, pendekatan ini tidak hanya akan mengurangi tekanan terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap dengan sinergi semua pihak dan perubahan perilaku masyarakat, pengelolaan sampah di Sukmajaya dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan, sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat,” pungkas Christine.
Di tengah keterbatasan kapasitas dan tingginya volume sampah, Sukmajaya kini berada pada titik krusial: memilih bertahan dengan pola lama, atau bergerak cepat menuju sistem pengelolaan yang lebih modern, partisipatif, dan berorientasi masa depan.(Ht)








