DEPOK | FOKUSKOTA.COM – Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-53 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dimaknai secara berbeda oleh legislator PPP, Hj. Qonita Luthfiyah. Melalui aksi nyata penanaman 1.000 pohon, ia menegaskan komitmennya menghadirkan politik yang meneduhkan, berakar pada nilai keimanan, serta berpandangan jauh ke depan demi keberlanjutan lingkungan hidup.
Kegiatan yang digelar di kawasan Kasablanka, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, tersebut menjadi simbol bahwa politik tidak berhenti pada retorika dan wacana, melainkan diwujudkan melalui tindakan konkret yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Aksi tanam pohon ini melibatkan partisipasi aktif warga sekitar, pengurus RT dan RW, serta kader PPP. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan, mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kualitas lingkungan.
Hj. Qonita Luthfiyah menyampaikan bahwa peringatan Harlah ke-53 PPP merupakan momen refleksi perjalanan panjang partai sekaligus peneguhan arah perjuangan ke depan. Menurutnya, politik seharusnya tidak semata berorientasi pada kekuasaan, melainkan menjadi sarana pengabdian yang memberi dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.
“Menanam pohon adalah bentuk ikhtiar sekaligus amanah. Politik seharusnya meneduhkan, memberi manfaat, dan memikirkan masa depan generasi yang akan datang,” ujar Hj. Qonita, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan, penanaman 1.000 pohon tersebut menjadi simbol keberanian untuk berpikir melampaui kepentingan sesaat. Pohon-pohon yang ditanam diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis, memperbaiki kualitas lingkungan, serta menjadi warisan kehidupan bagi generasi mendatang.
Lebih jauh, Hj. Qonita menekankan bahwa nilai keimanan harus menjadi landasan utama dalam setiap langkah perjuangan politik. Dalam ajaran Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah fil ardh, penjaga bumi yang bertanggung jawab merawat dan melestarikan alam sebagai amanah dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah sosial. Ketika kita menanam pohon, kita sedang menjalankan peran sebagai penjaga kehidupan,” katanya.
Menutup pernyataannya, Hj. Qonita menegaskan bahwa gerakan tanam 1.000 pohon ini bukanlah akhir, melainkan awal dari ikhtiar panjang dalam membangun kesadaran lingkungan dan politik yang bertanggung jawab. Pohon-pohon yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh menjadi penanda bahwa politik pernah hadir dengan niat baik, bekerja dalam senyap, dan berpihak pada masa depan.
“Jika hari ini kita menanam dengan iman dan merawat dengan kesungguhan, maka kelak generasi setelah kita akan memanen kebaikannya. Inilah makna politik yang sesungguhnya—menyemai harapan, menjaga kehidupan, dan meninggalkan jejak yang memberi manfaat,” tutup Hj. Qonita. (Ht)








