Jejak Kebaikan Lebih Abadi dari Harta dan Jabatan, Qonita Lutfiyah Ajak Masyarakat Maknai Asyura dengan Kepedulian

IMG-20260625-WA0011

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Peringatan Hari Asyura 10 Muharram – 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, sekaligus menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial. Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang sering membuat manusia terfokus pada urusan duniawi, nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas dinilai semakin penting untuk dijaga.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Depok, Dr. Hj. Qonita Lutfiyah, S.E., M.M., yang mengajak masyarakat menjadikan Hari Asyura sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Depok itu, Hari Asyura bukan sekadar peringatan keagamaan yang datang setiap tahun, melainkan momentum spiritual untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan sosial.

“Momentum Asyura mengajarkan kita tentang kesabaran, rasa syukur, keikhlasan, serta kepedulian terhadap sesama. Dalam kehidupan yang penuh tantangan saat ini, jangan sampai kita kehilangan empati. Kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain,” ujar Qonita.

Sebagai sosok yang tumbuh dan menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, Qonita mengaku mendapatkan banyak pelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang mengajarkan nilai-nilai kepedulian, kerendahan hati, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Di pesantren kami diajarkan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak dan ibadah harus melahirkan kepedulian. Jangan sampai seseorang merasa dekat dengan Allah SWT tetapi justru abai terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Qonita menilai semangat Hari Asyura sangat erat kaitannya dengan nilai gotong royong, solidaritas, dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk memperbanyak amal kebajikan seperti menyantuni anak yatim, membantu kaum dhuafa, serta memberikan perhatian kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan hidup.

Menurutnya, kondisi sosial dan ekonomi yang masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat membutuhkan kehadiran rasa empati dan kepedulian dari semua pihak.

“Ketika masih ada anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, atau saudara kita yang sedang menghadapi cobaan, maka di situlah kesempatan bagi kita untuk menghadirkan nilai-nilai Asyura dalam kehidupan nyata. Kepedulian tidak harus menunggu kaya. Kepedulian dimulai dari hati yang tulus untuk berbagi,” katanya.

Qonita juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Karena itu, manusia tidak semestinya hanya berlomba mengumpulkan harta atau mengejar jabatan, melainkan juga berlomba menanam amal kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang.

“Harta bisa habis, jabatan bisa berakhir, tetapi kebaikan akan terus hidup dan dikenang. Bahkan ketika kita sudah tiada, manfaat yang pernah kita berikan akan tetap mengalir melalui doa dan kebahagiaan orang-orang yang pernah kita bantu,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang kuat juga membutuhkan masyarakat yang memiliki rasa persaudaraan, kepedulian sosial, dan semangat saling membantu.

Karena itu, Hari Asyura 1448 Hijriah harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk mempererat ukhuwah, memperkuat kebersamaan, serta membangun optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Jangan hanya menghitung bertambahnya usia setiap tahun. Yang lebih penting adalah menghitung berapa banyak manfaat yang sudah kita berikan kepada orang lain. Sebab hidup yang terbaik bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan,” ujarnya.

Menutup pesannya, Qonita berharap momentum Hari Asyura dapat melahirkan pribadi-pribadi yang semakin peduli, rendah hati, dan istiqamah dalam menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.

“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus berjalan di jalan kebaikan. Mari jadikan Hari Asyura sebagai pengingat bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya,” tutupnya.

Peringatan Hari Asyura tahun ini menjadi pengingat bahwa nilai sejati kehidupan tidak terletak pada kekayaan maupun kedudukan yang dimiliki, melainkan pada jejak kebaikan yang ditinggalkan. Sebab pada akhirnya, yang akan terus dikenang bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup, tetapi manfaat yang telah diberikan bagi sesama manusia.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *