Mata Sehat, Cita-Cita Hebat: PGI Depok Buka Jalan bagi Anak-Anak untuk Melihat Masa Depan Lebih Jelas

IMG-20260729-WA0016

DEPOK | FOKUSKOTA .com – Cita-cita seorang anak seharusnya tidak terhalang hanya karena gangguan penglihatan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak anak usia sekolah yang mengalami gangguan mata tanpa pernah menyadarinya.

Kondisi itu terungkap dalam kegiatan pemeriksaan mata gratis yang digelar Persatuan Golf Indonesia (PGI) Kota Depok bersama Yayasan Amal Mata Indonesia di SDN Tapos 4, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Program pemeriksaan mata ini menyasar pelajar dan guru di berbagai wilayah Kota Depok, dengan Kecamatan Tapos menjadi lokasi awal pelaksanaan.

Ketua PGI Kota Depok, Hamzah, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda sosial, tetapi bagian dari komitmen PGI untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Menurutnya, kesehatan mata anak memiliki kaitan erat dengan proses pendidikan. Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat membuat anak kesulitan membaca tulisan di papan kelas, berkonsentrasi mengikuti pelajaran, bahkan berpotensi menghambat aktivitas sehari-hari.

“Di SDN Tapos 4 ini saja ada 298 siswa yang mendapatkan pemeriksaan mata gratis. Kami ingin memastikan seluruh anak di Kota Depok memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan mata,” ujar Hamzah.

Ia menegaskan, program tersebut tidak dibatasi oleh kuota tertentu. Dengan demikian, semakin banyak anak yang mendapatkan pemeriksaan, semakin besar pula peluang gangguan penglihatan dapat ditemukan lebih awal dan ditangani dengan tepat.

Salah satu kisah yang mencuri perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pengalaman seorang siswa bernama Rayan.

Di tengah aktivitas pemeriksaan mata, Rayan mengikuti setiap tahapan dengan antusias. Anak dari keluarga sederhana itu mengaku kerap mengalami pandangan buram, terutama ketika berada di bawah terik matahari.

“Pandangan saya sering buram, terutama saat siang hari atau terkena sinar matahari langsung,” kata Rayan.

Di balik gangguan penglihatannya, Rayan menyimpan mimpi besar. Ia bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional. Di sekolah, ia juga dikenal menyukai pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta Matematika.

Namun, gangguan penglihatan yang selama ini dialaminya berpotensi menghambat aktivitas belajar maupun kegiatan yang ia sukai.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan refraksi yang membutuhkan koreksi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa gangguan penglihatan pada anak dapat muncul tanpa disadari dan baru diketahui ketika dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

Bagi Rayan, pemeriksaan tersebut bukan hanya soal mengetahui kondisi matanya. Lebih dari itu, deteksi dini dapat menjadi langkah penting agar ia tetap bisa belajar, beraktivitas, dan mengejar cita-cita tanpa terhambat persoalan penglihatan.

Hamzah menilai pemeriksaan mata sejak usia sekolah harus menjadi perhatian bersama. Sebab, tidak semua anak mampu mengenali atau menyampaikan bahwa dirinya mengalami gangguan penglihatan.

Dalam pemeriksaan di SDN Tapos 4, kata Hamzah, ditemukan sejumlah siswa yang mengalami gangguan refraksi dengan tingkat yang cukup tinggi.

“Kalau ada anak yang mengalami minus atau silinder tetapi tidak diperiksa, bagaimana mereka bisa menerima pelajaran dengan baik? Penglihatan yang tidak jelas tentu dapat memengaruhi konsentrasi dan proses belajar mereka,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak orang tua dan guru untuk lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan penglihatan pada anak. Anak yang sering menyipitkan mata, mendekatkan buku terlalu dekat, kesulitan melihat tulisan di papan tulis, atau sering mengeluhkan pandangan buram perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

PGI Kota Depok juga membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk kalangan media, untuk mendapatkan pemeriksaan mata melalui koordinasi dengan pihak PGI Depok.

Sementara itu, Owner Yayasan Amal Mata Indonesia, Diana, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi turut membawa tantangan baru bagi kesehatan mata anak.

Menurutnya, tingginya intensitas penggunaan perangkat digital dapat membuat anak lebih berisiko mengalami keluhan mata, terutama jika tidak diimbangi dengan kebiasaan menjaga kesehatan mata.

“Anak-anak sekarang banyak menggunakan gadget. Karena itu, penggunaan perangkat digital perlu diatur dan harus diselingi dengan waktu istirahat agar mata tidak terus-menerus bekerja dalam jarak dekat,” jelas Diana.

Ia mendorong orang tua untuk menerapkan kebiasaan istirahat mata secara berkala ketika anak menggunakan perangkat digital. Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah mengalihkan pandangan ke objek yang lebih jauh secara rutin.

Namun, Diana mengakui bahwa penggunaan teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, termasuk untuk kebutuhan pendidikan. Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar melarang penggunaan gadget, melainkan membangun kebiasaan penggunaan yang lebih sehat dan seimbang.

Menurutnya, pemeriksaan mata secara berkala juga penting dilakukan sebagai langkah deteksi dini.

Kegiatan pemeriksaan mata gratis di SDN Tapos 4 menjadi gambaran bahwa persoalan kesehatan mata anak tidak boleh dianggap sepele.

Di balik angka minus dan silinder yang ditemukan, ada anak-anak yang sedang berjuang memahami pelajaran, mengejar prestasi, bermain bersama teman, hingga menggapai cita-cita.

Rayan adalah salah satu gambaran kecil dari persoalan tersebut. Cita-cita menjadi pesepak bola profesional membutuhkan tubuh yang sehat dan penglihatan yang baik. Dengan pemeriksaan sejak dini, anak-anak diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan mengejar impian mereka.

Melalui kolaborasi PGI Kota Depok dan Yayasan Amal Mata Indonesia, pemeriksaan mata gratis diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sosial sesaat. Program ini diharapkan dapat menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan mata anak berarti ikut menjaga masa depan generasi muda.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *