DEPOK | FOKUSKOTA .com – Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) Kota Depok, H. Hamzah, tak ingin aktivitas organisasi olahraga hanya berkutat pada arena pertandingan. Dari lapangan golf, Hamzah membawa semangat kepedulian sosial ke sekolah-sekolah melalui program pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis bagi pelajar.
Langkah tersebut mulai dilakukan di lima sekolah, yakni SMP dan SMK Karya Putra Bangsa, SDN Tapos 4, SDN Tapos 5, serta SDN Cilangkap 8.
Hamzah mengatakan, program tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi penglihatan anak-anak yang ternyata masih banyak mengalami gangguan mata tanpa terdeteksi.
“Setelah kami melakukan pemeriksaan di lima sekolah secara menyeluruh, ternyata banyak anak SD yang ketika melihat papan tulis sudah buram atau blur. Bahkan untuk membaca tulisan guru pun agak kesulitan,” ujar Hamzah.
Temuan itu, kata dia, menjadi alasan kuat untuk memperluas program pemeriksaan mata ke lebih banyak sekolah di Kota Depok.
Hamzah mengungkapkan, PGI Kota Depok bersama Yayasan Amal Mata Indonesia (YAMI) dan TP PKK Kota Depok tengah menyiapkan agenda pemeriksaan mata secara serentak dengan sasaran jauh lebih besar.
Targetnya mencapai 20.000 hingga 30.000 pelajar, mulai dari jenjang SD/MI hingga SMP.
Jika persiapan berjalan sesuai rencana, kegiatan tersebut ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026, bertepatan dengan momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda.
Bukan sekadar kegiatan sosial, pemeriksaan mata secara massal itu juga diarahkan untuk memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
“Insyaallah kami akan berkolaborasi dengan Yayasan Amal Mata dan PKK Kota Depok untuk pemeriksaan mata secara serentak. Targetnya 20.000 sampai 30.000 anak. Rencananya pada Oktober dan mudah-mudahan bisa terealisasi menjadi rekor MURI,” kata Hamzah.
Menurutnya, rencana tersebut masih akan dimatangkan melalui rapat bersama pihak-pihak yang terlibat.
Hamzah menilai pemeriksaan mata di sekolah merupakan bentuk intervensi sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap proses belajar anak.
Ia mengaku prihatin setelah menemukan pelajar yang mengalami gangguan penglihatan cukup berat namun tidak memiliki alat bantu penglihatan.
“Bahkan ada anak yang minus enam, minus tujuh, sampai minus sembilan. Bayangkan kalau sudah seperti itu dan tidak ada kacamata, tentu mereka akan kesulitan membaca,” ungkapnya.
Karena itu, pelajar yang membutuhkan tidak hanya diperiksa, tetapi juga diberikan kacamata secara gratis sesuai hasil pemeriksaan.
Bagi Hamzah, program tersebut memiliki pesan sederhana: hal kecil bisa menghasilkan dampak yang luar biasa.
Kegiatan itu juga dinilai sejalan dengan program kesehatan PKK yang mendorong peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, Hamzah menegaskan PGI Kota Depok tengah membangun paradigma baru bahwa organisasi golf tidak hanya berbicara mengenai kompetisi.
Program sosial dan edukasi menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat olahraga golf kepada masyarakat.
Salah satu program yang disiapkan adalah PGI Go to School, yang bertujuan memperkenalkan olahraga golf kepada generasi muda.
Hamzah juga ingin mengikis anggapan bahwa golf merupakan olahraga eksklusif dan hanya bisa dimainkan kalangan tertentu.
“Kami ingin membuka mata masyarakat bahwa golf bukan hanya olahraga yang mahal. Ke depan kami ingin PGI menjadi bagian dari program pemerintah untuk ikut menyukseskan olahraga di Kota Depok,” tegasnya.
PGI juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku UMKM agar kegiatan olahraga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Agenda sosial tersebut berjalan beriringan dengan persiapan PGI Kota Depok menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026, ketika Depok dipercaya menjadi salah satu tuan rumah.
Hamzah menyebut persiapan atlet terus digenjot karena PGI Kota Depok memasang target untuk meraih medali.
“Masih ada waktu lebih dari dua bulan untuk mempersiapkan atlet. Kami akan genjot semaksimal mungkin supaya atlet kita bisa mendapatkan medali, baik emas, perak maupun perunggu,” ujarnya.
Ia mengakui golf Depok masih memiliki pekerjaan rumah karena selama ini belum banyak memberikan kontribusi medali di ajang Porprov.
Namun, optimisme mulai muncul setelah atlet Depok menunjukkan prestasi dalam sejumlah pertandingan terakhir.
Untuk menghadapi Porprov, disiapkan sejumlah atlet utama dan atlet cadangan. Dari komposisi tersebut, atlet cadangan dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi tak terduga selama masa persiapan maupun pertandingan.
Hamzah berharap seluruh rangkaian program tersebut dapat menjadi momentum kebangkitan golf Depok—bukan hanya mengejar prestasi di lapangan, tetapi juga hadir memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“PGI harus ikut mengambil bagian dalam program pemerintah. Kami ingin olahraga ini berkembang, atlet berprestasi, sekaligus masyarakat merasakan manfaat keberadaan PGI,” pungkas Hamzah.(Ht)








