DEPOK | FOKUSKOTA.com – Sebanyak 33 pelajar terbaik Kota Depok resmi memasuki tahapan pemusatan latihan sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Depok Tahun 2026.
Terdiri dari 17 putra dan 16 putri, para calon Paskibraka tersebut tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan tugas pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka juga ditempa menjadi generasi muda yang memiliki disiplin, tanggung jawab, jiwa kepemimpinan, kekompakan, serta semangat kebangsaan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Depok Dr. Dudi Mi’raz Imaduddin, M.Si. menegaskan, menjadi Paskibraka bukan sekadar persoalan mampu berbaris dengan tegap atau menjalankan prosesi pengibaran bendera.
Menurutnya, proses pemusatan latihan merupakan bagian penting dalam membangun karakter para pelajar yang telah dipercaya membawa nama keluarga, sekolah, dan Kota Depok.
“Kesempatan ini harus dipandang bukan hanya sebagai sebuah kebanggaan, tetapi juga sebagai amanah dan tanggung jawab,” tegasnya dalam sambutan pembukaan pemusatan latihan Calon Paskibraka Kota Depok 2026.
Ia mengatakan, 33 calon Paskibraka tersebut merupakan putra-putri pilihan yang telah melewati proses seleksi dari sekian banyak pelajar di Kota Depok.
Karena itu, setiap tahapan latihan diminta dijalani dengan sungguh-sungguh. Tantangan fisik maupun mental yang muncul selama pembinaan justru menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
“Jangan takut lelah. Jangan takut menghadapi tantangan. Karena dari proses yang sulit itulah karakter yang kuat akan terbentuk,” pesannya.
Lebih jauh, ia mengibaratkan setiap gerakan dalam latihan Paskibraka memiliki nilai kehidupan. Berdiri tegap, misalnya, bukan hanya soal sikap tubuh, tetapi juga simbol keteguhan dalam memegang prinsip.
Begitu pula dengan langkah yang dilakukan secara serempak. Menurutnya, hal itu mengajarkan bahwa keberhasilan tidak dapat diraih seorang diri, melainkan membutuhkan kerja sama dan kekompakan.
Sementara penghormatan kepada Sang Merah Putih menjadi pengingat akan perjuangan para pahlawan serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Pembinaan, kata dia, tidak boleh berhenti ketika tugas pengibaran bendera selesai.
Para calon Paskibraka diharapkan mampu mempertahankan nilai kedisiplinan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Jangan hanya menjadi Paskibraka yang baik pada saat bertugas. Jadilah Paskibraka yang baik setiap hari,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para pelajar untuk menghormati guru dan orang tua, menjadi teman yang baik, serta menghindari berbagai perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pasalnya, status sebagai Paskibraka membawa konsekuensi moral. Setelah menjalankan tugas kenegaraan, mereka tetap akan dipandang sebagai bagian dari generasi muda pilihan Kota Depok.
Dalam kesempatan tersebut, Bakesbangpol juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua atau wali calon Paskibraka.
Keberhasilan anak-anak hingga lolos menjadi calon Paskibraka dinilai tidak terlepas dari doa, dukungan, perhatian, serta pengorbanan keluarga.
Pemerintah Kota Depok pun memastikan proses pembinaan dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan para calon Paskibraka.
“Anak-anak ini bukan sekadar peserta kegiatan bagi kami. Mereka adalah putra-putri yang sangat berharga bagi keluarganya,” ungkapnya.
Para orang tua juga diminta terus memberikan dukungan selama proses pemusatan latihan berlangsung.
Ketika anak-anak merasa lelah, orang tua diharapkan memberikan semangat. Ketika muncul keraguan, keluarga diminta memberikan keyakinan. Dan ketika menghadapi kesulitan, doa serta dukungan keluarga menjadi kekuatan penting.
Momentum Paskibraka 2026 juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kembali semangat Pancasila, persatuan, nasionalisme, gotong royong, serta kecintaan terhadap Tanah Air.
Kepada 17 putra dan 16 putri calon Paskibraka, ditekankan bahwa mereka bukanlah individu yang berjalan sendiri-sendiri.
Mereka adalah satu tim yang harus saling mendukung, mengingatkan, menjaga, dan menguatkan.
Pesan yang ditanamkan pun sederhana namun sarat makna: latihan yang dijalani bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk keluarga, sekolah, Kota Depok, dan Indonesia.
“Jaga kesehatan. Jaga disiplin. Jaga kekompakan. Jaga nama baik keluarga. Jaga nama baik Kota Depok. Dan yang paling penting, jaga kehormatan Sang Merah Putih,” pesannya.
Ia berharap seluruh pembina, pamong, pelatih, panitia, serta pihak yang terlibat dapat menjalankan proses pemusatan latihan secara profesional dan penuh tanggung jawab.
Sebab, ketika nantinya 33 putra-putri pilihan Depok berdiri tegap di hadapan Sang Merah Putih, yang mereka bawa bukan sekadar seragam dan hasil latihan.
Di balik setiap langkah terdapat doa orang tua, harapan para guru, kebanggaan keluarga, serta amanah dari Kota Depok.
Tugas itu pun diharapkan dapat dijalankan dengan penuh kebanggaan, tanggung jawab, dan keikhlasan.(Ht)








