Bantuan Terlambat di Sumatera: Pakar UPER Soroti Tantangan Distribusi Terakhir dan Perlunya Teknologi GIS

IMG-20251223-WA0044

JAKARTA | FOKUSKOTA.COM –  Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November lalu masih menyisakan kekhawatiran besar terkait penanganan dan pemulihan pascakejadian. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 16 Desember 2025 mencatat 1.030 orang meninggal dunia, sekitar 7.000 lainnya terluka, dan 146.758 rumah rusak.

Penanganan pascabencana menjadi krusial, mengingat 72 jam pertama setelah bencana merupakan “golden time” untuk penyelamatan dan menekan korban jiwa. Namun, distribusi logistik yang lambat dan tidak optimal kerap memicu polemik di masyarakat.

Pakar logistik sekaligus dosen Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER), Dr. Eng. Iwan Sukarno, ST., M.Eng., CLIP., menjelaskan bahwa bantuan sebenarnya telah tiba cepat di posko-posko utama di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Masalahnya terletak pada distribusi terakhir — sulitnya menjangkau wilayah terisolasi akibat medan yang sulit serta kerusakan jalan dan jembatan, membuat bantuan menumpuk di satu titik sementara wilayah lain belum tersentuh.

Selain kondisi geografis, Dr. Iwan menekankan perlunya peta distribusi logistik kebencanaan yang disesuaikan dengan karakter setiap wilayah. Tanpa pemetaan yang jelas mengenai penduduk, permukiman, dan aksesibilitas, proses distribusi cenderung bersifat reaktif dan lambat.

“Pemanfaatan teknologi seperti Geographic Information System (GIS), big data, dan sistem informasi logistik dapat membantu memetakan wilayah, menentukan rute alternatif, menetapkan prioritas, hingga mengoptimalkan moda transportasi non-darat,” tambahnya.

Bencana tersebut menjadi pembelajaran penting: integrasi rantai pasok lokal dan kemitraan logistik harus dibangun sebelum bencana terjadi. Hal ini membantu memenuhi kebutuhan masyarakat pada golden hours sambil menunggu bantuan dari pusat.

“Bencana tidak bisa dihindari, tetapi keterlambatan bantuan bisa dimitigasi jika sistem logistik dibangun berbasis data, teknologi, dan kolaborasi dengan kapasitas lokal seperti penyedia transportasi, supermarket, dan perusahaan logistik lokal,” tegas Dr. Iwan.

Sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada teknologi, UPER mendorong pengembangan solusi relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam penanganan kebencanaan. Melalui pendekatan interdisipliner dan peminatan seperti sustainable energy logistics, universitas ini menyiapkan talenta yang unggul secara teknis dan peduli terhadap keberlanjutan serta ketahanan sistem.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *