DEPOK | FOKUSKOTA .com – Suasana Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di kediaman H. Edi Mastro ketua Fraksi Gerindra Kota Depok kembali dipenuhi nuansa kehangatan, kekeluargaan, dan silaturahmi yang begitu kental. Tradisi tahunan yang telah lama terbangun di lingkungan keluarga besar H. Edi Mastro ini kembali menjadi momen istimewa bagi warga, relawan, tokoh masyarakat, ulama, hingga para konstituen untuk saling bertemu, bermaafan, dan mempererat hubungan batin.
Bagi keluarga besar H. Edi Mastro, momentum Lebaran bukan sekadar perayaan hari kemenangan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang terus dijaga dari tahun ke tahun. Tradisi menerima kunjungan masyarakat usai Idulfitri disebut sudah menjadi budaya yang hidup dan melekat kuat di tengah keluarga maupun lingkungan sekitar.
H. Edi Mastro menegaskan, kegiatan yang berlangsung di kediamannya bukanlah open house dalam arti formal, melainkan bentuk silaturahmi yang tumbuh secara alami sebagai tradisi masyarakat dan keluarga besar yang telah berlangsung lama.
“Alhamdulillah, ini memang sudah menjadi budaya dan tradisi di keluarga besar kami. Setiap Lebaran, masyarakat merasa punya kewajiban moral untuk bersilaturahmi. Jadi ini bukan open house secara resmi, tapi memang tradisi yang sudah berjalan sejak lama di kampung kami,” ujar Edi
Menurutnya, meski pemerintah melalui sejumlah surat edaran mengimbau agar kegiatan pertemuan saat Lebaran dilakukan secara sederhana, pihaknya tetap menjalankan silaturahmi dengan konsep yang sangat bersahaja. Tidak ada kemewahan ataupun jamuan berlebihan, melainkan sekadar sambutan hangat dan suguhan sederhana ala rumahan.
Tradisi tersebut bahkan tidak berlangsung hanya satu atau dua hari. Seperti tahun-tahun sebelumnya, arus kunjungan warga ke kediaman H. Edi Mastro biasanya terus berlangsung hingga dua pekan setelah Hari Raya.
Sejak pagi hingga larut malam, masyarakat datang secara bergantian dari berbagai wilayah yang selama ini menjadi bagian dari binaan, relasi sosial, maupun jaringan silaturahmi keluarga.
“Biasanya dari hari ketiga Lebaran sampai dua minggu ke depan masyarakat terus datang. Bahkan kadang sampai malam, sampai sekitar pukul 12 malam baru selesai. Ini sudah biasa setiap tahun, jadi kami memang menyiapkan diri untuk menerima mereka dengan penuh rasa syukur,” tuturnya.
H. Edi Mastro juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh relawan, konstituen, tokoh masyarakat, ulama, serta seluruh tamu yang hadir. Baginya, kehadiran masyarakat bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga menjadi energi moral yang sangat berarti.
Ia menyebut, momen pasca-Lebaran seperti ini menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan masyarakat harus terus dijaga, terlebih amanah yang diemban hari ini lahir dari dukungan dan doa banyak pihak.
“Bagi kami, kehadiran masyarakat itu sangat berharga. Mereka datang membawa doa, semangat, dan keberkahan. Itu menjadi kekuatan tersendiri bagi kami untuk terus menjaga amanah dan tetap dekat dengan masyarakat,” katanya.
Senada dengan itu, HJ. Nur Hatikah, istri H. Edi Mastro, menjelaskan bahwa tradisi menerima tamu saat Idulfitri telah berlangsung jauh sebelum sang suami mengemban amanah sebagai wakil rakyat. Menurutnya, budaya silaturahmi di keluarga besar mereka memang sudah terbentuk sejak lama dan terus dijaga sebagai warisan nilai kekeluargaan.
Ia menjelaskan, pada hari pertama dan kedua Lebaran, keluarga biasanya memfokuskan waktu untuk keluarga inti. Sementara mulai hari ketiga, kediaman mereka dibuka bagi masyarakat umum yang ingin bersilaturahmi.
“Kalau hari pertama dan kedua biasanya kami khusus bersama keluarga inti. Setelah itu, mulai hari ketiga sampai dua minggu ke depan kami menerima tamu dari luar. Alhamdulillah, jamaah, tokoh masyarakat, RT, RW, konstituen, tokoh pemuda,semua datang bergantian. Itu sudah menjadi tradisi yang sangat kami jaga,” ujar HJ. Nur Hatikah.
Ia menilai, momen Lebaran menjadi kesempatan berharga untuk mempertemukan banyak orang yang dalam keseharian jarang bisa berkumpul. Dari silaturahmi itu lahir suasana temu kangen, saling memaafkan, hingga terbangunnya semangat kebersamaan yang semakin erat.
Menurutnya, kehadiran masyarakat di rumah mereka bukan semata kunjungan biasa, melainkan bentuk dukungan moril yang sangat besar bagi keluarga.
“Ketika masyarakat datang, rasa lelah itu seperti hilang. Karena kami sadar, sampai hari ini kami bisa berada di titik sekarang juga berkat dukungan, doa, dan kepercayaan masyarakat. Jadi kehadiran mereka itu benar-benar menjadi support system terbesar bagi kami,” ungkapnya.
Meski menerima tamu dalam jumlah besar, HJ. Nur Hatikah menegaskan bahwa konsep silaturahmi yang dibangun tetap sederhana dan tidak berlebihan. Tidak ada jamuan istimewa, hanya suguhan ringan khas rumahan yang disiapkan dengan penuh ketulusan.
“Kami membuka pintu dan membuka hati untuk siapa pun yang datang. Konsepnya sederhana, ala kadarnya saja, tidak ada jamuan khusus. Yang penting adalah kehangatan, kebersamaan, dan niat baik untuk menjalin silaturahmi,” katanya.
Di akhir pernyataannya, HJ. Nur Hatikah juga menyampaikan pesan Idulfitri kepada masyarakat Kota Depok. Ia berharap momentum 1 Syawal 1447 Hijriah dapat menjadi awal yang baik untuk membangun masa depan kota yang lebih maju, harmonis, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat.
Ia juga berharap sinergi antara unsur eksekutif, legislatif, dan masyarakat dapat terus terjalin demi menghadirkan program-program yang benar-benar bermanfaat bagi warga.
“Mudah-mudahan Idulfitri tahun ini membawa kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga Kota Depok ke depan semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan semua unsur pemerintahan bisa terus bersinergi untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Tradisi yang terus dijaga di kediaman H. Edi Mastro dan keluarga ini menjadi cerminan bahwa Idulfitri sejatinya bukan hanya tentang perayaan, melainkan juga tentang membuka hati, merawat kedekatan, dan menjaga tali persaudaraan di tengah masyarakat.(Ht)








