Video Viral Bongkar Celah Rutan Depok, 2 Petugas dan 22 Warga Binaan Diperiksa

IMG-20261004-WA0048

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Video yang memperlihatkan aktivitas tak semestinya di dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok akhirnya mendapat pengakuan resmi. Pihak Rutan memastikan lokasi dalam video tersebut memang berada di lingkungan Rutan Depok.

Kepala Rutan Kelas I Depok, Ario Galih Maduseno, mengungkapkan fakta tersebut setelah pihaknya melakukan investigasi internal menyusul viralnya video di media sosial.

Pengakuan ini sekaligus membuka pertanyaan serius mengenai sistem pengawasan di dalam rutan, terutama terkait keberadaan telepon seluler dan sejumlah perlengkapan yang terlihat dalam video.

“Video tersebut benar ada di Rutan Depok,” kata Ario saat konferensi pers di Rutan Kelas I Cilodong Depok, Minggu (4/10/2026).

Tak berhenti pada pemeriksaan internal, Rutan Depok kini memeriksa dua petugas dan 22 warga binaan yang diduga berkaitan dengan munculnya video tersebut.

Dua petugas yang diperiksa berasal dari unsur pengamanan dan staf bimbingan kerja.

“Untuk saat ini dua orang anggota yang diperiksa sedang dalam proses penanganan,” ujar Ario.

Yang menjadi perhatian bukan hanya isi video. Dalam rekaman tersebut terlihat adanya lampu disko dan telepon seluler (HP) yang digunakan untuk merekam.

Keberadaan barang-barang tersebut di dalam rutan menjadi persoalan tersendiri karena pihak pemasyarakatan memiliki aturan ketat terhadap barang yang dapat dibawa masuk ke lingkungan warga binaan.

“Kita akan telusuri bagaimana barang-barang tersebut bisa berada di dalam rutan,” tegas Ario.

Temuan tersebut membuat pengawasan internal Rutan Depok kembali menjadi sorotan. Apalagi, jumlah warga binaan jauh lebih besar dibandingkan personel pengamanan yang bertugas dalam satu shift.

Ario mengakui persoalan keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam pengawasan.

Saat ini Rutan Depok dihuni sekitar 1.279 warga binaan, sedangkan petugas pengamanan yang berjaga dalam satu shift hanya sekitar 10 orang.

Kondisi itu membuat rasio pengawasan berada pada kisaran satu petugas berbanding 100 warga binaan.

“Memang kita terbatas SDM. Ada 1.279 warga binaan, dengan petugas pengamanan hanya 10 orang,” ungkapnya.

Namun, keterbatasan personel tidak boleh menjadi celah lemahnya pengawasan. Karena itu, Rutan Depok menyatakan akan memperkuat pemeriksaan, melakukan razia secara berkelanjutan dan melibatkan unsur eksternal.

Ario memastikan pemeriksaan di lingkungan rutan akan dilakukan secara berkala.

Menurutnya, razia sebelumnya telah dilakukan secara menyeluruh. Namun, munculnya barang dan aktivitas seperti yang terlihat dalam video membuat sistem pengawasan tetap harus dievaluasi.

“Kami pastikan razia akan dilakukan terus-menerus, tentunya dengan pendekatan persuasif. Kami juga akan menggandeng pihak eksternal,” katanya.

Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai respons sesaat akibat video viral, tetapi menjadi evaluasi menyeluruh terhadap pengamanan Rutan Depok.

Rutan Depok juga akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

“Kita laporkan ke pihak kepolisian,” kata Ario.

Hingga kini, pemeriksaan terhadap dua petugas dan 22 warga binaan masih berlangsung. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk menentukan tindakan berikutnya.

Ario yang baru sekitar satu bulan menjabat sebagai Kepala Rutan Kelas I Depok menegaskan pihaknya berkomitmen memperketat pengawasan dan mengevaluasi sistem keamanan.

Viralnya video tersebut kini bukan sekadar persoalan konten media sosial. Fakta bahwa rekaman dibuat dari dalam rutan, lengkap dengan keberadaan HP dan lampu disko, menjadi alarm keras bahwa celah pengawasan harus segera dibenahi.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *