Universitas Pertamina Tancap Gas Hilirisasi Energi, Riset Didorong Jadi Inovasi Bernilai

IMG-20260814-WA0013

JAKARTA | FOKUSKOTA.com – Hilirisasi energi nasional memasuki babak penting. Di tengah langkah pemerintah menyiapkan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi dengan nilai investasi mencapai Rp618,13 triliun, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pusat pengetahuan, tetapi juga motor penggerak riset yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi industri dan masyarakat.

Momentum tersebut ditangkap Universitas Pertamina (UPER) dengan memperkuat arah riset yang berorientasi pada pemanfaatan dan penciptaan nilai. Kampus yang berada dalam ekosistem industri energi ini mendorong perubahan paradigma dari sekadar menghasilkan publikasi ilmiah menuju research for value creation.

Rektor Universitas Pertamina periode 2026–2031, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan bahwa kedekatan UPER dengan industri energi menjadi modal strategis untuk membawa hasil penelitian lebih dekat pada kebutuhan nyata di lapangan.

“Kami ingin mendorong riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diadopsi, dihilirisasi, dan menciptakan nilai bagi industri maupun masyarakat,” ujar Prof. Ichsan saat pelantikan Rektor Universitas Pertamina periode 2026–2031, 31 Juli 2026.

Menurutnya, publikasi ilmiah tetap memiliki posisi penting dalam pengembangan akademik. Namun, hasil penelitian harus memiliki jalur lanjutan agar dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari adopsi teknologi, hilirisasi inovasi hingga kolaborasi dengan mitra nasional dan internasional.

“Universitas Pertamina memiliki posisi strategis karena berada dalam ekosistem industri energi nasional. Kami ingin menggeser paradigma dari research output menjadi research for value creation,” tegasnya.

1.200 Riset, 2.500 Publikasi, dan 370 Paten
Komitmen tersebut bukan tanpa fondasi. Sejak berdiri hingga 2025, UPER telah menghasilkan lebih dari 1.200 penelitian dan 2.500 publikasi ilmiah, serta mencatat lebih dari 370 paten dan hak cipta.

Di sisi kolaborasi, UPER juga telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 90 mitra di sektor energi maupun mitra internasional. Jejaring tersebut menjadi modal penting untuk memperluas penelitian bersama sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil riset.

Ke depan, UPER ingin memastikan hasil penelitian potensial tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah. Riset diarahkan memiliki jalur yang lebih jelas menuju penerapan dan komersialisasi.

Energy Innovation Hub Jadi Mesin Hilirisasi
Dalam lima tahun mendatang, salah satu strategi utama yang disiapkan UPER adalah pengembangan Energy Innovation Hub.

Ekosistem ini akan mempertemukan dosen, mahasiswa, pelaku industri, serta mitra riset nasional dan internasional. Tujuannya bukan sekadar memperbanyak kerja sama, tetapi membangun pola kolaborasi yang mampu mengidentifikasi persoalan industri dan menerjemahkannya menjadi agenda penelitian.

UPER juga akan membangun pipeline hilirisasi untuk memetakan hasil penelitian yang memiliki potensi dikembangkan, diadopsi, hingga dikomersialisasikan.

“Hilirisasi membutuhkan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri. Kami ingin kolaborasi tersebut bergerak lebih jauh menuju co-creation, sehingga persoalan nyata industri dapat menjadi bagian dari agenda riset dan hasil penelitian yang potensial memiliki jalur yang lebih jelas menuju implementasi dan komersialisasi,” kata Prof. Ichsan.

Energi dan Transisi Berkelanjutan
Penguatan riset energi di UPER juga berjalan beriringan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Melalui Sustainability Center, UPER mengembangkan kajian dan kolaborasi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk isu energi dan transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Prof. Ichsan menilai transisi energi tidak cukup hanya mengandalkan perubahan sumber energi. Penguasaan teknologi, inovasi dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk memastikan transformasi energi berjalan efektif.

“Transisi energi bukan hanya persoalan perubahan sumber energi, tetapi juga membutuhkan penguasaan teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia,” jelasnya.

Karena itu, UPER juga akan memperkuat karakter mahasiswa agar mampu menjadi talenta yang kreatif, adaptif dan berintegritas. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan inovasi yang menjawab tantangan sektor energi.

Dengan memperkuat riset bersama industri, memperluas kemitraan internasional, serta membangun jalur hilirisasi yang lebih terstruktur, Universitas Pertamina menargetkan riset tidak lagi berhenti sebagai angka publikasi.

Riset didorong menjadi teknologi, teknologi menjadi inovasi, dan inovasi diharapkan menjadi nilai tambah bagi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *