JAKARTA | FOKUSKOTA.com – Limbah pelepah sawit berpotensi memiliki nilai lebih dari sekadar sisa perkebunan. Peneliti Universitas Pertamina (UPER) bersama sejumlah peneliti nasional dan internasional mengembangkan material berbasis limbah tersebut untuk membantu mendeteksi mikroplastik, partikel pencemar berukuran sangat kecil yang mengancam ekosistem perairan.
Inovasi ini dikembangkan oleh Dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, Dr. Nonni Soraya Sambudi, bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Teknologi PETRONAS.
Tim memanfaatkan pelepah sawit sebagai bahan baku Carbon Quantum Dots (CQDs), yakni partikel karbon berukuran nanometer yang mampu memancarkan cahaya ketika disinari. Perubahan intensitas cahaya tersebut diteliti sebagai indikator potensial untuk mengetahui keberadaan mikroplastik.
“Pelepah sawit dapat diolah menjadi partikel karbon sangat kecil yang disebut Carbon Quantum Dots atau CQDs. Partikel ini dapat memancarkan cahaya ketika disinari. Setelah mikroplastik ditambahkan ke dalam larutannya, cahaya tersebut bisa menjadi lebih terang atau lebih redup,” jelas Nonni.
Menurutnya, penelitian ini tidak hanya membuka peluang pengembangan teknologi pendeteksi pencemaran, tetapi juga memberikan nilai tambah pada limbah perkebunan sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Diolah pada Suhu 200 Derajat Celsius
Dalam proses penelitian, tim memanfaatkan lignin, salah satu komponen penyusun pelepah sawit, sebagai sumber karbon. Bahan tersebut dikeringkan, digiling, diolah menjadi arang, kemudian diproses menjadi CQDs pada suhu 180, 190, dan 200 derajat Celsius.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemrosesan pada suhu 200 derajat Celsius menghasilkan pancaran cahaya paling kuat. Material yang dihasilkan memiliki ukuran partikel rata-rata sekitar 4,05 nanometer, sehingga memungkinkan pengembangan lebih lanjut untuk aplikasi berbasis nanoteknologi.
Peneliti juga menguji respons material terhadap dua jenis mikroplastik, yakni polietilena (PE) yang banyak digunakan pada kantong plastik serta polietilena tereftalat (PET) yang umum digunakan pada botol minuman.
Dalam pengujian tersebut, mikroplastik dimasukkan ke larutan CQDs untuk mengamati perubahan intensitas cahaya setelah disinari. Pengamatan ini dilakukan guna menilai potensi CQDs sebagai material pendeteksi mikroplastik.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam International Journal of Technology pada Januari 2025.
Berpotensi Bantu Pantau Pencemaran Perairan
Pengembangan teknologi ini menjadi relevan di tengah tingginya pencemaran plastik global. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan sekitar 19–23 juta ton limbah plastik masuk ke ekosistem perairan setiap tahun.
Seiring waktu, plastik dapat terpecah menjadi mikroplastik berukuran kurang dari lima milimeter. Partikel tersebut berpotensi tertelan organisme perairan dan masuk ke rantai makanan, sehingga pemantauan keberadaannya menjadi bagian penting dalam upaya memahami pencemaran lingkungan.
Meski menunjukkan potensi, material CQDs berbasis pelepah sawit ini masih memerlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut agar mampu memberikan hasil deteksi yang konsisten sebelum diterapkan secara luas di lingkungan.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan bahwa riset tersebut sejalan dengan komitmen kampus dalam mendorong inovasi yang menjawab tantangan lingkungan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.
“Riset ini menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. UPER terus mendorong riset yang tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan kebutuhan teknologi di masa depan,” ujar Ichsan.
Inovasi ini memperlihatkan bagaimana limbah perkebunan dapat dikembangkan menjadi material berteknologi tinggi. Jika penelitian lanjutan berhasil meningkatkan kinerja dan keandalan deteksinya, CQDs berbasis pelepah sawit berpeluang menjadi salah satu pendekatan untuk membantu pemantauan mikroplastik sekaligus mendukung pemanfaatan limbah secara berkelanjutan.(Ht)








