DEPOK | FOKUSKOTA.com –Upaya memperkuat pengelolaan Sungai Ciliwung secara terpadu mendapat perhatian dalam kunjungan delegasi sejumlah negara ASEAN ke Kota Depok, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung di Dermaga Sahabat Ciliwung ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), pengendalian pencemaran, hingga peran masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai.
Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, GEF/UNDP, proyek ASEAN Integrated River Basin Management (IRBM), PEMSEA Resource Facility, serta peserta dari negara-negara anggota ASEAN.
Mewakili Pemerintah Kota Depok dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Kabid DLHK Budiman menyampaikan apresiasi atas kehadiran para delegasi internasional. Menurutnya, Sungai Ciliwung bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat perkotaan.
“Ciliwung merupakan nadi kehidupan warga Kota Depok sekaligus sumber daya air vital yang menghadapi berbagai tekanan,” ujar Budiman.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan kualitas air pada 2025, kondisi Sungai Ciliwung di wilayah Depok secara umum berada pada kategori cemar ringan hingga cemar sedang sesuai ketentuan PP Nomor 22 Tahun 2021.
Salah satu persoalan dominan adalah tingginya parameter mikrobiologi seperti Fecal Coliform dan Total Coliform. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan masuknya limbah domestik, baik blackwater maupun greywater.
Selain limbah rumah tangga, beban pencemaran juga berasal dari aktivitas usaha seperti hotel, restoran, serta usaha skala kecil dan menengah yang belum seluruhnya memiliki sistem pengolahan air limbah yang memadai.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah kepadatan permukiman di bantaran sungai, keberadaan permukiman semi permanen di sekitar garis sempadan sungai, serta masih ditemukannya titik pembuangan sampah liar.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Pemkot Depok melihat adanya kekuatan besar dari masyarakat. Komunitas peduli Ciliwung, kelompok ProKlim dan berbagai pegiat lingkungan terus bergerak melakukan aksi bersih sungai, penghijauan hingga edukasi lingkungan.
Budiman mengatakan, masyarakat juga mulai beradaptasi terhadap risiko banjir dan perubahan kondisi sungai. Salah satunya melalui sistem peringatan dini berbasis komunitas ketika terjadi peningkatan debit air dari wilayah hulu, termasuk Bogor dan Katulampa.
“Semangat masyarakat di bantaran Ciliwung menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan sungai,” katanya.
Saat ini terdapat 22 kelurahan yang berada di wilayah DAS Ciliwung di enam kecamatan di Kota Depok. Pemerintah terus mendorong optimalisasi TPS 3R, bank sampah, pengendalian sampah serta peningkatan kesadaran masyarakat.
DLHK Depok juga menyiapkan sejumlah langkah pengendalian pencemaran, mulai dari percepatan pembangunan IPAL komunal, edukasi penggunaan tangki septik kedap air, pemantauan kualitas air secara berkala hingga pengawasan terhadap pelaku usaha di sepanjang DAS.
Pendekatan yang digunakan mengacu pada Integrated River Basin Management (IRBM), yakni pengelolaan DAS secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan mitra internasional.
“Pengelolaan DAS Ciliwung tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir,” tegas Budiman.
Kegiatan di Dermaga Sahabat Ciliwung juga diisi dengan penanaman pohon di bantaran Sungai Ciliwung. Penanaman dilakukan Kepala DLHK Kota Depok bersama para peserta dari berbagai negara sebagai simbol komitmen bersama memperkuat ketahanan ekosistem sungai.
Bagi Depok, kehadiran delegasi ASEAN bukan sekadar kunjungan lapangan. Ciliwung menjadi ruang pembelajaran bersama bahwa persoalan sungai perkotaan membutuhkan solusi lintas wilayah, lintas sektor dan lintas negara—dengan masyarakat sebagai salah satu aktor kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.(Ht)








