Makna di Balik Tradisi, Nina Susana Tegaskan “Cuci Perabot” sebagai Warisan Nilai Kebersamaan dan Kesucian

IMG-20260506-WA0019

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Tradisi “cuci perabot” dalam rangkaian Lebaran Depok bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarat makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal itu disampaikan Sekretaris KOOD, Nina Susana, saat memberikan penjelasan mengenai nilai budaya di balik tradisi tersebut, Rabu (6/5/2026).

 

Menurut Nina, tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat tempo dulu menjelang Hari Raya Idulfitri, di mana seluruh perabot rumah tangga dibersihkan secara menyeluruh sebagai simbol penyucian diri dan lingkungan.

 

“Dulu, sebelum lebaran, orang tua kita membersihkan dapur dan semua perabot—dari panci, penggorengan, dandang, hingga peralatan kecil lainnya. Ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi bagian dari persiapan lahir dan batin,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, nilai utama dari tradisi ini sejalan dengan makna bulan Ramadan, yakni membersihkan hati sekaligus memperbaiki kehidupan sosial. Tradisi tersebut menjadi simbol bahwa kebersihan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Lebih jauh, Nina mengungkapkan bahwa rangkaian tradisi menjelang lebaran pada masa lalu sangat kental dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Mulai dari menguras empang untuk dibagikan hasil ikannya kepada tetangga, hingga memasak dodol dalam jumlah besar yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

 

“Semua dilakukan bersama-sama. Ada kebersamaan, ada kepedulian. Hasilnya dinikmati bersama, terutama untuk membantu saudara atau tetangga yang kurang mampu,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, tradisi tersebut mencerminkan nilai keadilan sosial dan toleransi yang kuat di tengah masyarakat. Bahkan dalam pengelolaan sumber daya, seperti hasil empang, pembagian dilakukan secara merata agar semua merasakan manfaatnya.

 

Namun, Nina mengakui bahwa nilai-nilai tersebut kini mulai memudar seiring perubahan gaya hidup masyarakat modern. Oleh karena itu, melalui Lebaran Depok, tradisi “cuci perabot” diangkat kembali sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus edukasi bagi generasi muda.

 

“Sekarang semuanya serba instan. Dulu membuat dodol saja penuh perjuangan dan kebersamaan. Ini yang ingin kita kenalkan kembali agar anak-anak kita memahami nilai di balik tradisi,” tuturnya.

 

Sebagai lembaga yang fokus pada pelestarian seni, bahasa, dan budaya, KOOD memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar tradisi lokal tidak hilang ditelan zaman. Nina menegaskan bahwa pengenalan budaya kepada generasi muda menjadi kunci keberlanjutan identitas daerah.

 

“Ini bukan hanya soal nostalgia, tapi bagaimana kita menanamkan nilai kebersamaan, kerja keras, dan kepedulian kepada generasi penerus,” tegasnya.

 

Melalui penguatan tradisi seperti “cuci perabot”, Lebaran Depok diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga ruang edukasi budaya yang hidup dan relevan bagi masyarakat masa kini. (Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *