Harga Plastik Melonjak Hingga 60 Persen, Pakar Ingatkan Tekanan Berat Industri dan Dampaknya ke Konsumen

IMG-20260426-WA0018

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Lonjakan harga minyak mentah global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah mulai merembet ke berbagai sektor industri, termasuk industri plastik. Kenaikan ini bahkan telah dirasakan hingga ke tingkat konsumen, dengan harga produk berbahan plastik dilaporkan melonjak tajam.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia mencatat kenaikan harga plastik mencapai 40 hingga 60 persen per April 2026. Peningkatan ini dipicu terganggunya distribusi minyak bumi sebagai bahan baku utama industri petrokimia, khususnya nafta.

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina, Wegik Dwi Prasetyo, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah secara langsung mendorong kenaikan harga nafta. Dampaknya berlanjut pada naiknya harga olefin, bahan dasar utama pembentuk plastik.

“Kenaikan harga nafta otomatis meningkatkan biaya produksi olefin. Ini yang kemudian membuat biaya produksi plastik dalam negeri membengkak secara signifikan,” ujar Wegik.

Ia menambahkan, struktur industri kilang di Indonesia saat ini masih berfokus pada produksi bahan bakar transportasi. Sementara itu, kapasitas produksi bahan baku petrokimia domestik masih terbatas, sehingga industri plastik nasional sangat bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Ketergantungan ini membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global. Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, yang memiliki produksi hingga jutaan barel per hari, memegang peranan besar dalam menentukan stabilitas harga bahan baku plastik dunia.

Di dalam negeri, meski Indonesia memiliki sumber daya seperti Sumatera Light Crude, produksi nafta baru mencapai sekitar 7,1 juta ton per tahun. Angka ini masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai 9,2 juta ton, sehingga kekurangan sekitar 2,1 juta ton harus dipenuhi melalui impor.

“Kondisi ini membuat harga plastik di Indonesia sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global,” kata Wegik.

Dampak kenaikan harga tersebut, lanjutnya, paling cepat dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga produk sehari-hari, seperti kantong plastik, kemasan makanan, hingga botol minuman. Lebih jauh lagi, tekanan biaya ini berpotensi mengganggu stabilitas harga di sektor ritel dan industri barang konsumsi cepat saji (FMCG).

Sebagai langkah antisipasi, Wegik mendorong pemerintah dan pelaku industri untuk memperkuat ketahanan bahan baku nasional. Upaya yang dapat dilakukan antara lain diversifikasi sumber impor dari kawasan non-konflik, optimalisasi pemanfaatan gas alam domestik melalui teknologi Gas-to-Olefins, serta peningkatan kapasitas kilang petrokimia nasional.

Selain itu, pengembangan bioplastik dan peningkatan penggunaan plastik daur ulang dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku berbasis fosil.

Sejalan dengan upaya tersebut, Universitas Pertamina turut mengambil peran melalui partisipasi dalam program internasional The Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP). Program ini merupakan kolaborasi dengan Yale University, United Nations Industrial Development Organization, Global Environment Facility, serta Kementerian Perindustrian RI untuk mendorong penerapan kimia hijau di sektor industri.

Sekretaris Universitas Pertamina, Raden Panji Adhitiyo Putera, menegaskan komitmen tersebut diwujudkan melalui riset inovatif dan penguatan kurikulum di bidang teknik kimia berkelanjutan.

“Langkah ini bertujuan mencetak talenta unggul yang mampu menghadirkan inovasi industri ramah lingkungan, sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan, khususnya industri inovatif dan konsumsi-produksi yang bertanggung jawab,” ujarnya.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *