Lebaran Ketupat dan HUT ke-63 Mazhab HM Jadi Momentum Silaturahmi, Doa, dan Penguatan Kebersamaan

IMG-20260404-WA0019

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Tradisi Lebaran Ketupat yang digelar Ketua DPC PPP Kota Depok, Mazhab HM, pada Sabtu (4/4/2026) atau 15 Syawal 1447 Hijriah, berlangsung penuh kehangatan, kekeluargaan, dan nuansa kebersamaan yang begitu kuat. Momentum tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan hari ulang tahun ke-65 Mazhab HM, sekaligus menjadi penutup rangkaian open house selama 15 hari sejak 1 Syawal.

Selama dua pekan penuh, kediaman Mazhab HM terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Tokoh masyarakat, jajaran pengurus dan kader PPP, sahabat, hingga warga sekitar silih berganti datang untuk bersilaturahmi dalam suasana Idulfitri yang sarat nilai persaudaraan.

Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang temu dan halal bihalal, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan yang memperlihatkan kedekatan Mazhab dengan masyarakat. Suasana sederhana namun hangat tampak mewarnai jalannya acara, di mana warga dan kader partai membaur tanpa sekat dalam semangat Syawal yang penuh keberkahan.

Secara tradisi, Lebaran Ketupat biasanya dirayakan pada 8 Syawal setelah umat Muslim menjalankan puasa sunah enam hari. Dalam makna budaya dan spiritual, ketupat menjadi simbol pengakuan atas kesalahan, ketulusan untuk saling memaafkan, dan harapan untuk kembali kepada fitrah.

Namun pada tahun ini, tradisi tersebut sengaja digelar pada 15 Syawal sebagai penutup dari seluruh rangkaian open house yang telah berlangsung sejak hari pertama Lebaran.

“Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan pada 8 Syawal setelah puasa sunah enam hari. Namun, kami laksanakan pada 15 Syawal sebagai penutup rangkaian open house sejak 1 Syawal,” ujar Mazhab.

Lebih dari sekadar perayaan budaya dan keagamaan, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial. Dalam pelaksanaannya, Mazhab turut melibatkan pelaku UMKM lokal, seperti pedagang bakso keliling dan penjual minuman di sekitar lingkungan rumahnya.

Kehadiran para pelaku usaha kecil tersebut memberi warna tersendiri dalam acara, sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap ekonomi kerakyatan. Mereka tidak hanya diberi ruang untuk berjualan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat yang hadir.

Langkah ini menunjukkan bahwa keberkahan Syawal tidak hanya dimaknai dalam aspek spiritual, tetapi juga harus mampu memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi lingkungan sekitar.

“Keberkahan Syawal tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga harus diwujudkan dalam kepedulian sosial. Memberdayakan UMKM adalah bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Mazhab.

Momentum ulang tahun ke-65 Mazhab pun menambah makna mendalam dalam acara tersebut. Bagi Mazhab, pertambahan usia adalah ruang refleksi untuk terus menjaga amanah, memperkuat pengabdian, dan memperluas manfaat bagi masyarakat.

Ia menegaskan, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan atau posisi, tetapi tentang kehadiran nyata di tengah masyarakat, menyapa, merangkul, dan terus menjaga ikatan kebersamaan dengan warga maupun kader.

“Syawal mengajarkan kita untuk kembali kepada fitrah, mempererat silaturahmi, dan memperluas manfaat bagi sesama. Di situlah makna sejati kebersamaan dan pengabdian,” tutup Mazhab.

Sementara itu, suasana haru dan penuh rasa syukur juga disampaikan oleh istri Mazhab , Ulfa Wulandari, yang turut mendampingi sepanjang kegiatan berlangsung. Ia mengaku sangat terharu melihat antusiasme warga yang datang berbondong-bondong, bahkan tanpa undangan resmi, hanya untuk bersilaturahmi dan mendoakan sang suami.

Menurut Ulfa, kehadiran masyarakat dalam jumlah besar itu menjadi bukti bahwa Mazhab tidak hanya dipandang sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai sosok yang telah dianggap dekat dan dituakan oleh banyak orang.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan terus dimudahkan dalam setiap langkahnya. Insya Allah, tanggal 5 Mei 2026 kami juga akan berangkat haji, mohon doanya agar semuanya dilancarkan,” ujar Ulfa Wulandari.

Ulfa juga menyampaikan rasa bangganya melihat warga datang dengan penuh ketulusan dan rasa hormat. Baginya, momen itu menjadi gambaran nyata tentang hubungan emosional yang telah terjalin lama antara Mazhab dan masyarakat.

“Yang membuat saya sangat terharu, mereka datang tanpa harus diminta. Berbondong-bondong hadir untuk bersilaturahmi dan mendoakan. Itu artinya mereka melihat Bapak bukan sekadar tokoh, tapi juga seperti orang tua sendiri bagi banyak orang,” ungkapnya.

Kehangatan yang tercipta dalam acara tersebut menegaskan bahwa Lebaran Ketupat tahun ini bukan hanya menjadi penutup rangkaian Syawal, melainkan juga menjadi simbol kuat tentang cinta masyarakat, ketulusan doa, dan eratnya hubungan sosial yang dibangun dari kedekatan, pengabdian, dan kebersamaan yang terus terjaga. (Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *