DEPOK | FOKUSKOTA.com – Upaya mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar terus berkembang menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif. St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., M.M., M.H,
Anggota DPRD Kota juga Ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Partai Solidaritas Indonesia Kota Depok.
Binton juga pernah 31 tahun berkarir di Bank Rakyat Indonesia, lama di bidang bisnis mikro dan menengah, sudah bertugas diberbagai kota di Indonesia, sejak berkarir di BUMN beliau juga pemerhati, penggiat dan pelaku UMKM. bahwa UMKM harus didorong untuk naik kelas agar mampu bertahan dan bersaing di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat serta perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, transformasi UMKM tidak hanya berbicara soal perubahan tampilan tempat usaha, tetapi juga menyangkut peningkatan kualitas pelayanan, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis.
“UMKM itu adalah tulang punggung ekonomi masyarakat, karena itu, warung-warung kecil yang hari ini masih sederhana harus kita dorong supaya bisa berkembang, lebih tertata, lebih modern, dan punya daya saing yang kuat,” ujar Binton.
Ia menilai, banyak pelaku usaha kecil di tingkat lingkungan sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, namun, potensi itu sering kali terkendala oleh keterbatasan modal, minimnya pendampingan usaha, hingga belum optimalnya pemahaman terhadap pemasaran digital.
Binton menegaskan, pemerintah harus hadir bukan hanya dalam bentuk program seremonial, tetapi melalui langkah konkret yang benar-benar menyentuh kebutuhan pelaku usaha di lapangan. Mulai dari pelatihan usaha, kemudahan perizinan, bantuan permodalan, hingga pendampingan pemasaran harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Naik kelas itu bukan berarti harus langsung besar, tetapi bagaimana usaha kecil ini bisa tumbuh secara bertahap. Dari yang tadinya hanya melayani pembeli sekitar rumah, kemudian berkembang menjadi toko yang lebih baik, lebih rapi, lebih profesional, dan akhirnya punya pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Menurut Binton, digitalisasi juga menjadi salah satu aspek penting dalam penguatan UMKM. Saat ini, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan cara-cara lama, tetapi harus mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk penggunaan sistem pembayaran non-tunai, promosi melalui media sosial, hingga pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Sekarang masyarakat ingin belanja yang praktis, cepat, dan nyaman. Jadi UMKM harus menyesuaikan diri. Kalau bisa masuk ke sistem digital, tampilannya bagus, pelayanannya baik, saya yakin UMKM kita bisa lebih maju,” tambahnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa kemajuan UMKM akan berdampak langsung terhadap penguatan ekonomi keluarga dan pembukaan lapangan kerja di lingkungan sekitar. Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha kecil harus menjadi agenda bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan masyarakat.
Semangat “UMKM Naik Kelas”, lanjut Binton, harus menjadi gerakan nyata yang membangkitkan optimisme pelaku usaha kecil agar berani berbenah dan berkembang. Dari warung sederhana, kata dia, lahir banyak usaha yang pada akhirnya mampu menopang perekonomian rumah tangga bahkan menjadi sumber penghidupan bagi orang lain.
“Kalau UMKM kita kuat, maka ekonomi masyarakat juga akan kuat. Inilah yang harus terus kita bangun bersama, supaya pelaku usaha kecil di Depok tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.
Transformasi UMKM dari usaha tradisional menuju model usaha yang lebih modern kini menjadi simbol perubahan ekonomi kerakyatan. Pembinaan yang tepat dan dukungan berkelanjutan, pelaku usaha kecil diyakini mampu melangkah lebih jauh, lebih mandiri, dan lebih kompetitif di masa depan.(Ht,)








