PEKKA Sukmajaya Didorong Jadi Gerakan Kemandirian, Camat Tegaskan Perempuan Kepala Keluarga Bukan Objek Belas Kasihan

IMG-20260130-WA0049

DEPOK | FOKUSKOTA.COM-  Kecamatan Sukmajaya menegaskan komitmennya menjadikan Program Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) sebagai gerakan pemberdayaan yang nyata dan berkelanjutan. Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli Tobing, S.STP, M.A, menekankan bahwa perempuan kepala keluarga harus diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan.

Komitmen tersebut disampaikan usai kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukmajaya yang digelar di Aula Kecamatan Sukmajaya, Jumat (30/1/2026).

Menurut Christine—yang akrab disapa Mpok Itin—perempuan kepala keluarga memiliki potensi besar untuk saling menguatkan jika difasilitasi dengan ruang yang tepat. Melalui PEKKA, ia ingin membangun ekosistem dukungan yang berbasis solidaritas dan kolaborasi.

“Tidak semua perempuan kepala keluarga itu lemah. Justru banyak dari mereka yang kuat dan mandiri. PEKKA harus menjadi ruang di mana yang sudah mampu bisa membantu yang masih berproses, yang punya keterampilan bisa membimbing yang lain,” ujarnya.

Ia menegaskan, pendekatan PEKKA di Sukmajaya tidak diarahkan pada pola bantuan satu arah. Para anggota didorong untuk aktif berperan, berbagi pengalaman, serta tumbuh bersama melalui jejaring sesama perempuan kepala keluarga.

Sebagai langkah konkret, komunitas PEKKA Sukmajaya telah mendapatkan dukungan dari PLN berupa booth usaha yang kini dimanfaatkan anggota untuk berjualan. Aktivitas usaha tersebut mayoritas bergerak di sektor kuliner dan berlangsung setiap hari di lingkungan kecamatan.

“Saya berusaha mengakomodasi kebutuhan mereka. Bantuan booth ini menjadi pintu awal agar perempuan kepala keluarga memiliki peluang usaha dan sumber penghasilan sendiri,” kata Christine.

Namun demikian, penguatan PEKKA tidak berhenti pada aspek ekonomi semata. Ke depan, Kecamatan Sukmajaya berencana mengembangkan program yang lebih menyentuh kebutuhan psikososial perempuan, seperti pertemuan rutin sebagai ruang berbagi, saling mendengarkan, dan memperkuat mental.

“Perempuan tidak hanya butuh bantuan finansial. Mereka juga ingin dimengerti, didengarkan, dan diberi masukan yang menenangkan. Ketika perempuan merasa bahagia dan kuat, biasanya keluarga—anak maupun pasangan—ikut merasakan dampaknya,” jelasnya.

Untuk memperluas manfaat program, Christine juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3P2KB). Kolaborasi ini diharapkan menghadirkan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan anggota PEKKA.

“Kami akan mencoba mengolaborasikan dengan dinas pengampu agar ada pelatihan yang benar-benar meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri perempuan kepala keluarga,” tambahnya.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, Program PEKKA di Sukmajaya diharapkan berkembang menjadi gerakan sosial yang tidak hanya membantu perempuan bertahan dalam kondisi sulit, tetapi juga mendorong mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan berdaya.

“Dengan dukungan yang tepat, perempuan kepala keluarga bukan hanya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga berkontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat,” pungkas Christine. (Hetti)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *