DEPOK, FOKUSKOTA .com – Berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah dengan tenang bersama keluarga, Yudi, jamaah asal Depok, justru mengaku harus menghadapi serangkaian persoalan selama mengikuti perjalanan umrah melalui Travel Jannah Firdaus paket Al Husna. Mulai dari bus city tour yang mengalami kerusakan, barcode Nusuk yang disebut tidak dapat digunakan, hingga perubahan penerbangan yang membuat anggota keluarganya terpisah saat pulang ke Indonesia.
Keluhan tersebut disampaikan Yudi pada Sabtu (10/10/2026). Ia berharap pihak manajemen travel memberikan penjelasan terbuka atas berbagai persoalan yang dialaminya bersama keluarga.
Yudi berangkat bersama istri, ibu, adik, dan bibinya, bergabung dengan rombongan sekitar 40 jamaah. Menurut penuturannya, perjalanan yang semula berjalan lancar mulai diwarnai kendala pada hari keempat, ketika rombongan hendak mengikuti kegiatan city tour di Makkah.
Bus yang digunakan mengalami gangguan mesin akibat fan belt terputus. Dampaknya, Yudi bersama empat anggota keluarganya terpaksa kembali ke hotel menggunakan taksi dengan biaya pribadi.
“Kami berlima terpaksa pulang ke hotel naik taksi dengan biaya sendiri,” ungkap Yudi.
Persoalan lain muncul saat rombongan berada di Madinah. Yudi mengaku barcode aplikasi Nusuk yang diberikan untuk akses ke Raudhah tidak dapat digunakan. Namun, menurut dia, jamaah tetap diminta membayar biaya tambahan dengan alasan layanan tersebut tidak termasuk tanggungan travel.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai fungsi barcode yang diberikan, mekanisme akses ke Raudhah, serta dasar penarikan biaya tambahan kepada jamaah.
Yudi berharap pihak travel menjelaskan persoalan tersebut secara transparan agar jamaah memperoleh kepastian mengenai layanan yang dijanjikan dan biaya yang harus ditanggung.
Keluhan yang paling membuat Yudi cemas terjadi menjelang kepulangan ke Tanah Air. Ia mengatakan pihak travel menginformasikan adanya perubahan penerbangan yang dikaitkan dengan gangguan keamanan yang memengaruhi maskapai Emirates.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, rombongan kemudian dibagi ke sejumlah penerbangan. Sebanyak 10 jamaah disebut dijadwalkan menggunakan Oman Air, 27 jamaah menggunakan Garuda Indonesia, sedangkan tiga jamaah lainnya dijadwalkan pulang pada waktu berbeda.
Bagi Yudi, persoalan tersebut bukan semata-mata perubahan maskapai, melainkan minimnya konfirmasi yang ia rasakan serta dampaknya terhadap kebersamaan keluarganya.
Ia mengaku harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya, sang ibu yang telah lanjut usia, dan bibinya tidak dapat pulang bersama dalam satu rombongan sebagaimana yang diharapkan.
“Saya khawatir terjadi apa-apa dengan ibu saya yang sudah berusia lanjut,” tuturnya.
Yudi mempertanyakan apakah manajemen Travel Jannah Firdaus mengetahui pengaturan tiket dan pemisahan kepulangan tersebut. Menurut dia, kondisi jamaah, terutama lansia dan anggota keluarga yang bepergian bersama, semestinya menjadi pertimbangan dalam pengaturan perjalanan.
“Kalau memang harus dipisah, mengapa bukan jamaah yang sejak awal bepergian dalam kelompok kecil? Mengapa harus kami, apalagi tanpa konfirmasi yang memadai?” ujarnya.
Yudi menegaskan, perjalanan umrah bersama keluarga seharusnya memberikan ketenangan dalam menjalankan ibadah, bukan justru menimbulkan kecemasan akibat persoalan teknis dan komunikasi.
Ia tidak mempersoalkan perubahan perjalanan apabila memang terdapat keadaan yang mengharuskannya. Namun, menurut dia, informasi yang jelas dan komunikasi kepada jamaah menjadi hal penting, terlebih ketika perubahan tersebut berdampak pada anggota keluarga lanjut usia.
“Pergi bersama-sama, pulangnya pun seharusnya bisa bersama-sama,” tegasnya.
Yudi berharap manajemen Travel Jannah Firdaus memberikan klarifikasi mengenai gangguan bus, persoalan barcode Nusuk dan biaya tambahan, serta alasan pembagian penerbangan yang membuat anggota keluarganya terpisah.(Ht)








