Inovasi Mahasiswa Universitas Pertamina Bikin Gebrakan, Teknologi AR Pangkas Biaya Proyek hingga Rp588 Juta

IMG-20260630-WA0018

JAKARTA | FOKUSKOTA.com –  Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina (UPER) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui inovasi teknologi yang berpotensi merevolusi dunia konstruksi nasional. Tim Crystal berhasil mengembangkan metode pelaksanaan konstruksi berbasis **Augmented Reality (AR)** yang terintegrasi dengan **Building Information Modeling (BIM) 5D**, sebuah solusi digital yang mampu meningkatkan efisiensi proyek dengan penghematan biaya hingga **Rp588 juta** dan mempercepat waktu penyelesaian proyek selama **41 hari**.

Inovasi tersebut mengantarkan Tim Crystal yang terdiri dari **Dimas Agim Jamiat, Fikri Andika Ramadani, dan Fasha Al Ihsan** meraih **Juara I Civil National Expo (CNE) 2026**, setelah berhasil mengungguli 78 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Keberhasilan ini berangkat dari tantangan nyata yang masih dihadapi sektor konstruksi, khususnya pembangunan rumah tinggal yang menjadi proyek paling dominan di Indonesia. Di DKI Jakarta, misalnya, sekitar 76 persen aktivitas konstruksi merupakan pembangunan rumah tinggal. Namun, tingginya aktivitas tersebut masih diwarnai persoalan perubahan desain, kurangnya koordinasi antarpelaksana, hingga pekerjaan ulang (*rework*) yang menyebabkan pembengkakan biaya dan keterlambatan penyelesaian proyek.

Melihat kondisi tersebut, Tim Crystal menghadirkan pendekatan baru melalui integrasi BIM 5D dengan teknologi Augmented Reality. Sistem ini memungkinkan seluruh data proyek, mulai dari desain bangunan, kebutuhan material, jadwal pekerjaan hingga estimasi anggaran, tersaji dalam satu model digital yang dapat divisualisasikan secara langsung di lokasi proyek menggunakan perangkat AR.

Ketua Tim Crystal, Dimas Agim Jamiat, menjelaskan bahwa teknologi tersebut membantu pekerja memastikan seluruh pekerjaan sesuai dengan desain sebelum proses konstruksi dilakukan.

“Teknologi ini membantu memastikan pekerjaan di lapangan tetap sesuai dengan desain sejak awal sehingga risiko kesalahan dan pekerjaan ulang dapat ditekan,” ujar Dimas.

Dalam proses pengembangannya, tim memanfaatkan perangkat lunak **Revit** dan **Navisworks** yang diintegrasikan ke dalam sistem BIM. Melalui sistem tersebut, proses perhitungan volume pekerjaan, penyusunan jadwal proyek, hingga estimasi biaya menjadi lebih cepat, akurat, dan terkoordinasi.

Sebagai pembuktian, teknologi tersebut diterapkan dalam simulasi pembangunan rumah tinggal tiga lantai. Melalui visualisasi AR, pekerja dapat melihat secara presisi posisi jalur perpipaan, struktur bangunan, hingga dinding sebelum pekerjaan pengecoran dilakukan. Pendekatan ini mampu mengurangi potensi kesalahan pemasangan sekaligus meminimalkan kebutuhan pekerjaan ulang.

Hasil simulasi menunjukkan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi proyek secara signifikan. Pada proyek dengan nilai sekitar **Rp5 miliar**, metode yang dikembangkan Tim Crystal diproyeksikan dapat menghemat biaya sekitar **11 persen** atau setara **Rp588 juta**, sekaligus memangkas durasi pekerjaan hingga **41 hari** dibandingkan target awal.

Dosen Teknik Sipil Universitas Pertamina sekaligus pembimbing Tim Crystal, **Dr. Vani Arliani, S.T., M.T.**, mengatakan prestasi tersebut merupakan hasil dari penerapan metode **Project-Based Learning (PBL)** yang mendorong mahasiswa menciptakan solusi atas persoalan nyata di dunia industri.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga didorong untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif, efisien, dan mampu menjawab kebutuhan industri konstruksi yang terus berkembang.

Sementara itu, **Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si.**, menegaskan bahwa transformasi digital menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan di Universitas Pertamina.

“Kami terus memperkuat kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi agar mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan dunia industri,” ujarnya.

Keberhasilan Tim Crystal menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pendidikan, riset, dan teknologi mampu melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi industri konstruksi. Di tengah pesatnya transformasi digital, pemanfaatan teknologi Augmented Reality yang dipadukan dengan BIM 5D diyakini dapat menjadi solusi masa depan dalam menciptakan proyek konstruksi yang lebih cepat, efisien, akurat, dan berdaya saing tinggi.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *