DEPOK | FOKUSKOTA.com – Upaya memperkuat pengawasan keimigrasian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan terhadap wisatawan dan warga negara asing terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) yang digelar di Trans Hotel Cibubur, Kamis (4/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Eko Herwiyanto, A.P., M.Si., menegaskan bahwa sektor perhotelan dan penginapan memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penyedia akomodasi, tetapi juga sebagai wajah pertama yang memberikan kesan kepada wisatawan, termasuk warga negara asing yang berkunjung ke Kota Depok.
Menurutnya, keberhasilan suatu daerah dalam menarik kunjungan wisatawan saat ini tidak hanya ditentukan oleh keberadaan destinasi wisata semata, tetapi juga oleh kualitas pelayanan, keramahan masyarakat, serta pengalaman berkesan yang diperoleh pengunjung selama berada di daerah tersebut.
“Kota Depok memang tidak memiliki gunung seperti Bogor atau pantai seperti Sukabumi. Namun Depok memiliki potensi wisata yang terus berkembang, mulai dari wisata alam, wisata budaya, event daerah, hingga kekuatan sebagai kota pendidikan dan kota penyelenggara berbagai kegiatan nasional,” ujar Eko.
Berdasarkan data Disporyata, Kota Depok memiliki sedikitnya 19 destinasi wisata yang terdiri dari 16 wisata alam dan 3 wisata buatan, serta 48 objek budaya yang tersebar di berbagai wilayah.
Selain itu, posisi strategis Kota Depok yang berada di antara Jakarta dan Bogor menjadi keunggulan tersendiri. Didukung akses transportasi yang semakin baik, jaringan KRL, jalan tol, hingga keberadaan sejumlah perguruan tinggi ternama, Depok memiliki peluang besar menjadi kota tujuan maupun kota transit wisatawan.
Eko menjelaskan, tren pariwisata saat ini telah mengalami perubahan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi, tetapi juga pengalaman yang unik dan berkesan.
“Sekarang orang mencari pengalaman. Tinggal di rumah warga, menikmati kehidupan lokal, mengikuti aktivitas budaya, atau menghadiri event-event menarik menjadi daya tarik tersendiri. Karena itu hospitality atau keramahan pelayanan menjadi faktor yang sangat menentukan,” katanya.
Ia menambahkan, pelayanan yang ramah, responsif, informatif, dan profesional akan menciptakan kesan positif yang mendorong wisatawan untuk memperpanjang masa tinggal bahkan kembali berkunjung di kemudian hari.
Dalam konteks meningkatnya mobilitas warga negara asing, Eko menilai pengelola hotel dan penginapan juga perlu meningkatkan kapasitas pelayanan berbasis standar internasional. Mulai dari penyediaan informasi dalam bahasa asing, petunjuk arah yang jelas, layanan cepat, hingga rekomendasi destinasi wisata yang mudah diakses.
“Hotel bukan hanya tempat menginap. Hotel adalah pusat informasi pertama bagi wisatawan. Karena itu peran hotel sangat penting dalam mendukung promosi pariwisata dan memberikan rasa nyaman bagi para tamu,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Eko juga memaparkan sejumlah agenda besar yang menjadi daya tarik kunjungan ke Kota Depok. Salah satunya adalah Lebaran Depok 2026 yang sukses menarik sekitar 70 ribu pengunjung selama lima hari penyelenggaraan di Alun-alun Timur Kota Depok.
Selain itu terdapat agenda tahunan seperti Festival Perahu Naga, Tour de Depok, serta rencana pelaksanaan Festival Depok Heritage yang akan digelar pada 27–28 Juni 2026 di kawasan Depok Lama, Kecamatan Pancoran Mas.
Festival tersebut diharapkan mampu mengangkat kembali sejarah dan identitas budaya Depok sekaligus menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk keturunan keluarga Depok yang saat ini bermukim di luar negeri.
“Festival Heritage ini merupakan upaya menghidupkan kembali sejarah panjang Kota Depok. Kami berharap kegiatan ini menjadi salah satu pintu masuk wisata budaya yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah bahkan luar negeri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Eko menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha pariwisata, pengelola hotel, komunitas, perguruan tinggi, dan media massa dalam membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi langkah Direktorat Jenderal Imigrasi yang terus memperkuat pengawasan melalui pemanfaatan teknologi digital, termasuk melalui Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA).
Menurutnya, pengawasan yang baik harus berjalan seiring dengan pelayanan yang ramah sehingga wisatawan tetap merasa aman dan nyaman selama berada di Indonesia.
“Pengawasan diperlukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan, tetapi pelayanan yang baik juga harus tetap menjadi prioritas. Wisatawan harus merasa nyaman meskipun tetap berada dalam koridor aturan yang berlaku,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Eko mengajak seluruh pelaku usaha hotel dan penginapan di Kota Depok untuk terus meningkatkan kualitas layanan serta mempersiapkan diri menyambut berbagai agenda besar daerah, termasuk penyelenggaraan Porprov Jawa Barat 2026, yang akan melibatkan Kota Depok sebagai salah satu tuan rumah.
“Kami berharap seluruh hotel, penginapan, restoran, dan pelaku pariwisata dapat bersinergi menyambut berbagai event besar yang akan datang. Ini menjadi peluang bersama untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah,” pungkasnya.(Ht)








