DEPOK | FOKUSKOTA.COM – Imbauan Dinas Pendidikan Kota Depok yang mendorong ayah berpartisipasi dalam pengambilan rapor anak dinilai sebagai kebijakan sederhana namun berdampak besar bagi perkembangan mental dan psikologis siswa. Pendapat ini diungkapkan oleh Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok dari Fraksi PKB, Siswanto, SH, yang menyebut kebijakan tersebut sebagai investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia.
Menurutnya, pola pengasuhan di perkotaan selama ini cenderung menempatkan ibu sebagai pihak paling aktif dalam pendidikan, sedangkan peran ayah sering terbatas pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Padahal, keterlibatan ayah memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan rasa percaya diri, kedisiplinan, dan motivasi belajar anak.
“Surat edaran ini sangat positif. Di kota besar seperti Depok, ayah sering kurang terlibat langsung. Kehadiran mereka di sekolah memberikan dampak psikologis yang besar dan tidak bisa digantikan,” ujar Siswanto pada Selasa (23/12).
Momen pengambilan rapor, lanjutnya, menjadi ruang strategis untuk dialog langsung orang tua dan sekolah. Kehadiran ayah pada kesempatan itu memberi pesan kuat bahwa proses belajar anak mendapat perhatian serius dari kedua orang tua.
Pengalaman pribadinya saat mengambil rapor juga menunjukkan dampak positif secara nyata: anak-anak tampak lebih ceria, percaya diri, dan bangga, sementara suasana sekolah menjadi lebih hangat dengan interaksi positif antara ayah, anak, dan guru.
“Momen sederhana seperti berjalan bersama ayah, berbincang dengan guru, hingga memperkenalkan ayah ke teman-teman menjadi momen emosional yang membekas. Ini berkontribusi pada karakter, rasa aman, dan keterikatan emosional anak terhadap belajar,” jelasnya.
Selain bagi anak, kebijakan ini juga menguntungkan ayah, yang dapat mendengar penjelasan guru mengenai capaian akademik, kelebihan, dan aspek yang perlu ditingkatkan anak secara objektif informasi yang menjadi dasar pendampingan di rumah.
Untuk siswa yang tidak memiliki ayah, Siswanto menilai pendampingan dapat dilakukan oleh anggota keluarga laki-laki lainnya, seperti kakak atau kerabat dekat. Sementara itu, ia memuji ketangguhan ibu tunggal yang memikul tanggung jawab ganda.
“ibu-ibu single parent adalah sosok luar biasa. Mereka memikul tanggung jawab besar terhadap pendidikan dan masa depan anak,” katanya.
Siswanto berharap imbauan ini tidak hanya menjadi kebijakan administratif, melainkan awal perubahan budaya. Ia mengajak ayah untuk meluangkan waktu di momen penting pendidikan anak, sepanjang tidak terkendala pekerjaan. Ke depannya, keterlibatan ayah diharapkan menjadi praktik berkelanjutan yang didukung oleh lingkungan sekolah yang ramah keluarga.
Dengan kolaborasi seimbang antara ayah, ibu, sekolah, dan pemerintah, pendidikan di Depok diharapkan tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan ketahanan mental. Kebijakan sederhana ini pun menjadi pijakan penting untuk terwujudnya generasi Depok yang unggul secara intelektual, tangguh secara emosional, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Ht)








