Dari Kebo Andil hingga Rantangan, Mazhab H.M Ingatkan Pentingnya Merawat Tradisi Lama

IMG-20260507-WA0018

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Perayaan Lebaran Depok 2026 dinilai bukan sekadar agenda hiburan tahunan, melainkan ruang penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang mulai memudar di tengah kehidupan modern masyarakat perkotaan. Semangat kebersamaan, gotong royong, hingga tradisi khas masyarakat tempo dulu dianggap perlu terus diwariskan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Pandangan tersebut disampaikan Mazhab H.M usai menghadiri rangkaian acara Fashion Jadul dalam perhelatan Lebaran Depok 2026, Kamis (7/5/2026). Sebagai putra asli Depok, ia berharap tradisi yang diangkat dalam Lebaran Depok tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Lebaran Depok sekarang terasa semakin hidup dan penuh warna. Saya berharap tradisi-tradisi yang ditampilkan bukan hanya dinikmati saat acara saja, tetapi bisa terus dijalankan di lingkungan warga sebagai bagian dari budaya kita,” ujarnya.

Menurutnya, banyak nilai luhur masyarakat lama yang sesungguhnya masih relevan diterapkan saat ini, terutama dalam membangun solidaritas sosial dan mempererat hubungan antarwarga. Salah satu budaya yang ia soroti ialah tradisi Kebo Andil, sebuah simbol kebersamaan masyarakat Depok tempo dulu dalam menghadapi kebutuhan bersama.

Tradisi tersebut mencerminkan semangat saling membantu tanpa membedakan latar belakang sosial. Warga pada masa itu terbiasa bekerja bersama demi kepentingan lingkungan dan kebersamaan masyarakat.

“Budaya Kebo Andil mengajarkan kita bahwa kehidupan itu harus dijalani dengan rasa peduli dan gotong royong. Semua ikut membantu dan merasa memiliki tanggung jawab bersama,” tuturnya.

Selain itu, Mazhab juga menilai tradisi membuat ketupat bersama menjelang Lebaran memiliki filosofi yang sangat mendalam. Di balik prosesnya yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian, tersimpan nilai tentang kerja keras, kekompakan keluarga, serta rasa syukur.

“Ketupat bukan hanya makanan khas Lebaran. Di dalamnya ada makna tentang perjuangan, kesungguhan, dan kebersamaan keluarga yang sekarang mulai jarang dirasakan,” katanya.

Ia menjelaskan, proses menganyam janur hingga memasak ketupat dalam waktu lama menjadi gambaran bagaimana masyarakat dahulu membangun kedekatan melalui kebersamaan sederhana di rumah.

Tak hanya itu, tradisi rantangan atau saling mengirim makanan antarwarga juga dinilai sebagai budaya yang memperkuat hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi simbol kepedulian dan rasa saling berbagi yang perlu terus dipertahankan.

“Tradisi rantangan itu sederhana, tetapi maknanya besar. Dari situ tercipta hubungan yang hangat antarwarga dan rasa saling menghargai,” ungkapnya.

Mazhab berharap Pemerintah Kota Depok terus menghadirkan konsep Lebaran Depok yang dekat dengan akar budaya masyarakat. Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan lewat acara besar saja, tetapi harus dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar agar generasi muda tetap mengenal identitas daerahnya sendiri.

“Kalau budaya ini terus dijaga dan dijalankan di lingkungan masyarakat, saya yakin karakter dan identitas Depok akan tetap kuat di masa depan,” pungkasnya.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *