Banjir Berulang di Jembatan Jago, DPRD Depok Soroti Pendangkalan Kali Pesanggrahan

IMG-20260113-WA0003

DEPOK | FOKUSKOTA.COM – Hujan deras yang mengguyur Kota Depok sejak Minggu malam (11/1) hingga Senin dini hari (12/1) kembali memicu luapan Kali Pesanggrahan. Dampaknya, Jembatan Jago, jalur penghubung alternatif Sawangan–Cipayung, kembali terendam air dan mengganggu aktivitas warga.

Pantauan hingga Senin siang menunjukkan genangan masih menutupi badan jembatan, membuat arus lalu lintas tersendat dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara roda dua maupun roda empat. Sejumlah pengendara terpaksa memutar arah, sementara sebagian lainnya menunggu air surut sebelum melintas.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi Partai Gerindra, Edi Masturo, menilai banjir di Jembatan Jago sudah menjadi persoalan klasik yang belum tertangani secara tuntas. Menurutnya, setiap hujan dengan intensitas tinggi hampir selalu berujung pada luapan sungai.

“Ini bukan kejadian baru. Sungai sudah tidak lagi memiliki daya tampung yang memadai karena pendangkalan,” kata Edi Masturo, Senin (12/1).

Ia menjelaskan, pendangkalan Kali Pesanggrahan dipicu oleh endapan lumpur yang bercampur dengan tumpukan sampah. Kondisi tersebut diperparah oleh kiriman sampah dari wilayah hulu, termasuk dari sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, yang terbawa arus saat debit air meningkat.

“Material sampah dan sedimen terus menumpuk di dasar sungai. Akibatnya, ketika hujan deras, air cepat meluap dan menggenangi jembatan,” ujarnya.

Edi Masturo menegaskan, Jembatan Jago memiliki fungsi vital bagi mobilitas warga Depok. Jalur ini kerap menjadi pilihan utama untuk menghindari kepadatan di Jalan Raya Sawangan, terutama pada jam-jam sibuk. Ketika banjir terjadi, kemacetan tak terhindarkan dan aktivitas warga terganggu.

Selain menghambat lalu lintas, kondisi tersebut juga dinilai membahayakan keselamatan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melintas saat debit air meningkat, mengingat derasnya arus yang berpotensi menyeret kendaraan.

“Keselamatan harus menjadi prioritas. Pernah ada kendaraan yang terseret arus di lokasi ini, dan itu jadi peringatan bagi kita semua,” tegasnya.

Meski normalisasi sungai sempat dilakukan oleh Dinas PUPR sekitar tiga bulan lalu, Edi menilai upaya tersebut belum cukup menjawab persoalan banjir secara berkelanjutan. Sedimentasi yang kembali terjadi dalam waktu singkat menunjukkan perlunya penanganan yang lebih komprehensif.

“Kalau hanya dikeruk tanpa pengendalian sampah dari hulu, banjir akan terus berulang,” katanya.

Ia pun mendorong langkah kolaboratif antara pemerintah daerah, instansi teknis, serta masyarakat untuk menangani persoalan ini secara menyeluruh. Pengelolaan sampah, pengawasan sungai, hingga edukasi lingkungan disebut sebagai kunci menekan risiko banjir ke depan.

“Penanganan banjir tidak bisa parsial. Harus terpadu dan berkelanjutan agar Jembatan Jago benar-benar aman dan berfungsi optimal sebagai jalur penghubung warga,” pungkas Edi Masturo. (Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *