DEPOK | FOKUSKOTA.com – Nasib 12 siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, menjadi sorotan serius Komisi D DPRD Kota Depok. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Jumat (9/10/2026), terungkap bahwa sampel susu kemasan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut sudah tidak ditemukan saat Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Depok sekaligus Ketua Fraksi PKB, Siswanto, S.H., mengatakan RDP digelar untuk mengklarifikasi pengaduan masyarakat dan meminta penjelasan dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta sejumlah instansi terkait.
Peristiwa yang dilaporkan terjadi pada awal Oktober itu membuat sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan. Berdasarkan keterangan Siswanto yang diberitakan setelah RDP, terdapat 20 siswa yang dilaporkan terdampak, dengan 12 siswa mengalami kondisi yang relatif lebih berat hingga membutuhkan penanganan medis. Susu kemasan dalam menu MBG menjadi salah satu produk yang dicurigai berkaitan dengan kejadian tersebut.
Siswanto menyayangkan sampel susu yang diperlukan untuk pemeriksaan tidak lagi tersedia ketika Dinas Kesehatan melakukan inspeksi ke dapur SPPG.
Menurut keterangan pengelola yang disampaikan dalam RDP, sampel makanan biasanya disimpan, tetapi sampel susu tersebut telah dibuang setelah melewati masa penyimpanan 2 x 24 jam.
“Dinas Kesehatan tidak menemukan sampel susu yang diduga menjadi penyebab kejadian. Akibatnya, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tersebut tidak dapat dilakukan,” ujar Siswanto
Kondisi ini membuat penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa belum dapat dikonfirmasi melalui uji laboratorium terhadap produk yang dikonsumsi saat kejadian.
Dalam RDP, pihak SPPG menyatakan telah menjalankan prosedur operasional standar (SOP), termasuk pemeriksaan produk sebelum dibagikan. Susu yang dipersoalkan juga disebut masih memiliki masa berlaku hingga 2027.
Namun, keterangan tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab para siswa mengalami sakit. Tanpa sampel yang dapat diuji, dugaan bahwa susu menjadi penyebab kejadian belum dapat dinyatakan sebagai fakta medis.
Komisi D menegaskan bahwa kejadian yang berdampak pada kesehatan siswa harus menjadi bahan evaluasi serius bagi penyelenggara MBG. Pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan sebelum makanan dibagikan, tetapi juga harus memastikan prosedur penyimpanan sampel dan penanganan pengaduan dijalankan dengan benar.
Siswanto menyatakan pihaknya akan melakukan pengawasan lebih lanjut, termasuk rencana inspeksi ke dapur SPPG untuk melihat kondisi nyata di lapangan dan mengevaluasi penerapan SOP.
Ia juga meminta ahli gizi dan petugas terkait memastikan kualitas serta kelayakan makanan dan minuman sebelum didistribusikan kepada siswa.
Selain persoalan yang dialami para siswa, RDP turut menyoroti kelengkapan perizinan dapur MBG. Siswanto mengungkapkan bahwa dari 199 SPPG di Kota Depok, hanya delapan yang disebut memiliki kelengkapan perizinan secara menyeluruh.
Komisi D mendorong pengelola dapur menuntaskan persyaratan yang berlaku, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), serta Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Pihak terkait disebut meminta waktu hingga akhir 2026 untuk menyelesaikan perizinan. Komisi D menyatakan akan mengevaluasi perkembangan pemenuhan kewajiban tersebut dan mempertimbangkan langkah lebih tegas sesuai kewenangannya apabila komitmen tidak dipenuhi. Sementara itu, kewenangan sanksi operasional terhadap SPPG berada pada Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Komisi D, kasus ini harus menjadi peringatan agar keselamatan siswa tidak ditempatkan di belakang kepentingan operasional program. Setiap pengaduan gangguan kesehatan perlu ditangani secara serius, sementara prosedur keamanan pangan, dokumentasi sampel, dan kelengkapan perizinan harus dipastikan berjalan sesuai ketentuan.
Sebab, tujuan program MBG bukan sekadar membagikan makanan bergizi, melainkan memastikan makanan yang diterima siswa aman untuk dikonsumsi.(Ht)








