Isu Megathrust Selat Sunda Ramai, Pakar UPER Minta Warga Tak Terjebak Informasi Menyesatkan

IMG-20260914-WA0067

JAKARTA | FOKUSKOTA.com – Isu mengenai potensi gempa megathrust di Selat Sunda kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, masyarakat diingatkan agar tidak serta-merta menganggap skenario kebencanaan sebagai kepastian bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari, menilai penyampaian informasi mengenai potensi megathrust harus dilakukan secara hati-hati, terukur, dan disertai konteks yang memadai.

Menurut Farah, informasi mengenai besaran magnitudo maupun perkiraan dampak tsunami penting untuk diketahui publik sebagai bagian dari edukasi kebencanaan. Namun, angka-angka tersebut harus dipahami sebagai skenario potensi, bukan prediksi kapan bencana akan terjadi.

Isu tersebut mencuat setelah laporan Metro TV pada 12 September 2026 yang merujuk keterangan BMKG dan data BRIN membahas skenario gempa bermagnitudo 8,9 di kawasan Selat Sunda. Dalam skenario tersebut, tsunami berpotensi mencapai pesisir utara Jakarta sekitar 2,5 jam setelah gempa dengan perkiraan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter.

Farah menilai penyebutan angka tanpa penjelasan yang utuh justru dapat memunculkan dua respons yang berlawanan. Sebagian masyarakat bisa mengalami kecemasan berlebihan, sementara mereka yang merasa tinggal jauh dari sumber ancaman justru berpotensi menganggap risiko tersebut tidak penting.

“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah.

Jangan Salah Memahami Skenario sebagai Prediksi
Farah menjelaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan antara kajian potensi bencana dan peringatan dini.

Kajian potensi menggambarkan kemungkinan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun mitigasi. Sementara peringatan dini berkaitan dengan kondisi atau kejadian yang sedang berlangsung dan memerlukan respons tertentu.

Karena itu, informasi mengenai megathrust semestinya tidak berhenti pada angka magnitudo atau perkiraan waktu tiba tsunami. Informasi tersebut perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Misalnya, warga perlu mengetahui bagaimana mengenali jalur evakuasi, menentukan titik berkumpul, menyusun rencana komunikasi keluarga serta mengetahui kanal resmi yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi ketika terjadi keadaan darurat.

“Informasi kebencanaan harus menjawab pertanyaan masyarakat: apa risikonya bagi saya, bagaimana saya mengetahuinya, dan apa yang harus saya lakukan?” menjadi prinsip penting dalam komunikasi risiko, menurut Farah.

Media Sosial Jangan Jadi Sumber Kepanikan
Perhatian khusus juga diberikan terhadap penyebaran foto dan video bencana di media sosial.

Menurut Farah, dokumentasi lama yang kembali beredar tanpa keterangan waktu dan lokasi dapat menciptakan persepsi seolah-olah sebuah bencana sedang terjadi atau berkaitan langsung dengan isu megathrust yang tengah diperbincangkan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya melihat seberapa dramatis sebuah visual, tetapi juga memeriksa asal-usul dan konteksnya.

“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.

Ia mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sederhana sebelum meneruskan informasi, antara lain dengan melihat sumber pemberitaan, waktu publikasi, lokasi kejadian, serta membandingkannya dengan informasi dari lembaga resmi seperti BMKG, BNPB dan BPBD.

Sikap kritis tersebut dinilai penting karena informasi kebencanaan yang tidak lengkap atau dilepaskan dari konteks dapat menimbulkan kepanikan, bahkan membuat masyarakat mengambil kesimpulan yang keliru.

Perguruan Tinggi Diminta Perkuat Literasi Kebencanaan
Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, ilmu kebumian tidak cukup hanya disampaikan dalam bahasa teknis. Pengetahuan mengenai potensi bahaya harus diterjemahkan menjadi informasi yang dapat membantu masyarakat memahami risiko di lingkungan masing-masing.

“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan.

Upaya tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu megathrust. Masyarakat tidak perlu mengabaikan potensi bencana, tetapi juga tidak perlu hidup dalam ketakutan akibat informasi yang tidak memiliki konteks.

Pesan utamanya adalah waspada tanpa panik, kritis tanpa mengabaikan risiko, dan bersiap berdasarkan informasi resmi.

Dengan pemahaman tersebut, isu megathrust dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, bukan justru menjadi sumber keresahan akibat informasi yang keliru.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *