Duo Mahasiswi Universitas Pertamina Raih Juara Nasional, Usung Solusi Penguatan Perempuan Hadapi Krisis Iklim di Kawasan Pasifik

IMG-20260622-WA0002

BANDUNG | FOKUSKOTA .com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Pertamina (UPER). Dua mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional, Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, berhasil meraih Juara I kategori Chamber Policy Brief dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 yang berlangsung di Bandung.

Keberhasilan tersebut diraih setelah keduanya menyajikan sebuah gagasan kebijakan inovatif yang menyoroti pentingnya penguatan peran perempuan dalam menghadapi krisis iklim. Kompetisi bergengsi tersebut diikuti oleh 31 tim dari 31 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, menjadikan kemenangan ini sebagai pencapaian yang sangat prestisius.

Dalam karya berjudul “Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender”, Zeffanya dan Paskarina menawarkan model kerja sama strategis antara Indonesia dan negara-negara Pasifik guna meningkatkan kapasitas perempuan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Gagasan tersebut berangkat dari fakta bahwa perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim. Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa tanpa kebijakan yang responsif gender, jutaan perempuan dan anak perempuan berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan akibat perubahan iklim pada tahun 2050.

Melalui policy brief tersebut, keduanya mengusulkan pembentukan Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP), sebuah kerangka kerja sama yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi Indonesia dan negara-negara Pasifik dalam menghadapi ancaman perubahan iklim secara inklusif.

Menurut mereka, Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki kesamaan karakter sebagai wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan serupa, seperti kenaikan muka air laut, kerusakan ekosistem pesisir, serta ancaman terhadap kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya kelautan.

Indonesia dinilai memiliki pengalaman dan kapasitas yang dapat menjadi rujukan bagi negara-negara Pasifik, mulai dari kebijakan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI) 2024–2030, pengembangan Blue Economy Roadmap, hingga berbagai program pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan kawasan pesisir.

Zeffanya menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan iklim karena kedekatan mereka dengan komunitas serta pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai dampak lingkungan.

“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya.

Sebagai langkah implementasi, IPCGP menawarkan dua program utama. Program pertama adalah Gender-Climate Fellowship, yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan di negara-negara Pasifik dalam bidang pembiayaan iklim dan tata kelola wilayah pesisir.

Sementara program kedua, Mangrove & Coastal Adaptation Pilot, merupakan proyek restorasi ekosistem pesisir berbasis komunitas perempuan yang menargetkan pemulihan 500 hektare kawasan mangrove dalam tiga tahun, sekaligus mendorong penguatan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Paskarina menjelaskan bahwa kedua program tersebut dirancang untuk memastikan perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam menentukan arah pembangunan dan kebijakan lingkungan.

“Kami menargetkan sedikitnya 40 persen keterlibatan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan pada proyek restorasi pesisir. Harapannya, perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan yang tangguh terhadap krisis iklim,” jelas Paskarina.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., memberikan apresiasi atas capaian yang diraih kedua mahasiswi tersebut. Menurutnya, prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan tantangan global dan memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan global, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset yang inovatif dan aplikatif. Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Prof. Djoko.

Keberhasilan Zeffanya dan Paskarina tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Universitas Pertamina, tetapi juga menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mampu berperan aktif dalam merumuskan solusi atas tantangan dunia. Melalui pendekatan yang mengedepankan kesetaraan gender dan kolaborasi regional, gagasan mereka menjadi contoh nyata bagaimana akademisi muda dapat menghadirkan inovasi kebijakan untuk menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *