Maggot Jadi Senjata Baru Depok Tekan Sampah, DLHK Bidik Pengolahan 5 Ton Organik per Hari

IMG-20260604-WA0010(1)

DEPOK | FOKUSKOTA.com – Pemerintah Kota Depok terus memperkuat strategi pengurangan sampah dari sumbernya dengan mengembangkan pengolahan sampah organik berbasis maggot di sejumlah Unit Pengelolaan Sampah (UPS). Program ini dinilai efektif tidak hanya dalam menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengatakan bahwa pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot telah menunjukkan hasil positif. Saat ini, instalasi pengolahan maggot yang beroperasi di UPS mampu mengolah sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik setiap hari.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi langkah awal menuju target yang lebih besar dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap TPA Cipayung yang selama ini menampung sebagian besar sampah kota.

“Pengolahan sampah organik melalui maggot sudah berkontribusi mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Ke depan kapasitasnya akan terus kami tingkatkan,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

DLHK menargetkan setiap UPS yang mengembangkan budidaya maggot dapat meningkatkan kapasitas pengolahan hingga mencapai 5 ton sampah organik per hari. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah tidak hanya memperkuat fasilitas pengolahan, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Langkah ini dinilai sangat penting karena kualitas bahan baku menjadi faktor utama keberhasilan budidaya maggot. Sampah organik yang tercampur dengan limbah anorganik atau residu akan mengurangi efektivitas proses pengolahan.

Selain meningkatkan kapasitas yang ada, DLHK juga mulai mempersiapkan strategi menghadapi potensi bertambahnya volume sampah organik dari pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut diperkirakan menghasilkan sisa makanan dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot apabila dikelola dengan baik.

Di sisi lain, pengelola UPS menegaskan bahwa sistem pengolahan maggot akan berjalan optimal jika sampah yang diterima sudah terpilah sejak awal. Sampah organik murni dapat diolah menjadi produk bernilai guna seperti pakan ternak dan pupuk organik, sehingga hampir tidak menyisakan residu untuk dibuang ke TPA.

Meski memiliki prospek besar, pengembangan budidaya maggot tidak lepas dari berbagai tantangan. Reni menjelaskan bahwa pengelolaan maggot membutuhkan keterampilan khusus karena melibatkan organisme hidup yang sensitif terhadap perubahan lingkungan, kualitas pakan, dan ketersediaan bahan organik.

Jika pasokan sampah organik tidak stabil atau tercemar bahan berbahaya, pertumbuhan maggot dapat terganggu bahkan berisiko menyebabkan kematian koloni secara massal. Karena itu, konsistensi pasokan bahan baku dan ketelitian dalam pengelolaan menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.

Untuk mendukung keberlanjutan program, DLHK berkomitmen memperluas pelatihan dan pendampingan bagi pengelola UPS, kelompok masyarakat, serta komunitas lingkungan. Pemerintah berharap pengolahan sampah berbasis maggot dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu mengurangi beban TPA Cipayung sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Dengan penguatan sistem pengelolaan dari hulu hingga hilir, Depok optimistis budidaya maggot dapat menjadi salah satu solusi konkret dalam menghadapi persoalan sampah perkotaan yang terus meningkat setiap tahun.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *