DEPOK | FOKUSKOTA.com – Kemeriahan Lebaran Depok 2026 kembali menghadirkan wajah budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi khas seperti ngubek empang dan ngaduk dodol menjadi pusat perhatian, menarik ribuan warga untuk terlibat langsung dalam perayaan yang sarat nilai kebersamaan.
Di tengah semarak tersebut, Anggota DPRD Kota Depok, Hendrik Tangke Allo (HTA), menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi lokal sebagai bagian dari identitas kota. Menurutnya, Lebaran Depok bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pewarisan budaya yang harus terus diperkenalkan, terutama kepada generasi muda.
“Ini bukan hanya perayaan, tapi bagian dari jati diri Depok. Kita masih melihat banyak anak muda yang belum mengenal tradisi ini, sehingga perlu terus dihidupkan dan dikenalkan secara luas,” ujar HTA usai menghadiri kegiatan Ngubek Empang di wilayah Tapos, Selasa (5/5/2026).
Ia mengapresiasi penyelenggaraan Lebaran Depok tahun ini yang dinilai semakin merata dan inklusif, dengan pelaksanaan di berbagai titik. Hal tersebut, menurutnya, menjadi langkah positif dalam memperluas jangkauan partisipasi masyarakat.
Antusiasme warga pun terlihat nyata. Meski berlangsung di hari kerja, kawasan acara tetap dipadati pengunjung dari berbagai kalangan. Warga tampak larut dalam suasana, ikut turun ke empang, hingga menikmati rangkaian hiburan yang disajikan.
“Partisipasi masyarakat sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di hati warga,” ungkapnya.
HTA juga memberikan apresiasi kepada panitia yang dinilai berhasil mengemas acara secara menarik dan interaktif. Tradisi ngubek empang, menurutnya, tetap menjadi daya tarik utama yang mampu menghadirkan kegembiraan sekaligus mempererat kebersamaan.
Lebih dari itu, ia menilai Lebaran Depok memiliki nilai strategis karena tidak hanya mengangkat budaya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM di sekitar lokasi acara menjadi bukti nyata bahwa perayaan ini memberikan dampak ekonomi langsung.
“Budaya berjalan, ekonomi juga ikut bergerak. Ini yang harus terus kita dorong, agar kegiatan seperti ini memberi manfaat luas bagi masyarakat,” jelasnya.
HTA menekankan bahwa pelestarian tradisi tidak bisa dilakukan setengah hati. Konsistensi penyelenggaraan setiap tahun menjadi kunci agar budaya lokal tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kalau tidak kita jaga bersama, tradisi ini bisa hilang. Maka penting untuk terus dilaksanakan dan diwariskan ke generasi berikutnya,” tegasnya.
Lebaran Depok 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari ke depan, dengan berbagai agenda budaya dan hiburan rakyat yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Momentum ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap Kota Depok sebagai rumah bersama.(Ht)







