DEPOK | FOKUSKOTA.com – Semangat Raden Ajeng Kartini kembali dimaknai dalam perspektif kekinian. Di tengah arus digitalisasi yang kian masif, perjuangan perempuan dinilai tidak lagi sebatas membuka akses pendidikan, tetapi telah bergeser menuju penguasaan teknologi dan peran strategis dalam pembangunan ekonomi kreatif.
Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia Kota Depok, Binton Jhonson Nadapdap, menegaskan bahwa perempuan kini menjadi elemen kunci dalam membangun kota yang inovatif, inklusif, dan kompetitif di era modern.
Menurutnya, capaian perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan memang patut diapresiasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat melek huruf perempuan telah mencapai angka yang sangat tinggi. Namun, realitas tersebut belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
“Perempuan hari ini dituntut lebih dari sekadar berpendidikan. Mereka harus mampu memahami teknologi, mengelola informasi secara kritis, dan memanfaatkannya untuk menciptakan nilai ekonomi maupun sosial,” ujar Binton, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, tantangan utama saat ini bukan lagi pada akses pendidikan, melainkan kesenjangan literasi digital yang masih membayangi, terutama di wilayah-wilayah tertentu. Akses internet yang belum merata serta rendahnya pemanfaatan teknologi secara produktif menjadi pekerjaan rumah bersama.
Binton menyebut kondisi ini sebagai bentuk baru dari perjuangan perempuan. Jika di masa lalu Kartini berjuang membuka pintu pendidikan, maka perempuan masa kini harus menaklukkan ruang digital agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.
Dalam konteks pembangunan daerah, ia menyoroti besarnya kontribusi perempuan dalam sektor ekonomi, khususnya melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perempuan dinilai memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Ketika perempuan diberdayakan, dampaknya tidak hanya pada individu, tetapi meluas hingga ke keluarga dan masyarakat. Mereka adalah fondasi ekonomi rakyat,” jelasnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan berlapis yang dihadapi perempuan saat ini. Selain keterbatasan akses digital, perempuan juga harus menghadapi beban ganda antara peran domestik dan produktif, serta tekanan sosial dari dunia digital yang kerap membentuk standar semu.
Untuk itu, PSI Depok mendorong langkah-langkah konkret seperti penguatan literasi digital berbasis komunitas, pelatihan teknologi bagi pelaku UMKM perempuan, hingga membuka lebih banyak ruang kepemimpinan bagi perempuan di berbagai sektor.
“Perempuan tidak boleh berhenti sebagai pengguna. Mereka harus menjadi kreator, inovator, dan penggerak dalam ekosistem digital,” tegasnya.
Langkah tersebut, lanjut Binton, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia yang menempatkan inklusi digital sebagai prioritas pembangunan nasional.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga lembaga pendidikan.
“Perempuan adalah setengah kekuatan kota. Jika mereka diperkuat, maka percepatan pembangunan akan terjadi. Kota kreatif hanya bisa tumbuh jika perempuannya berdaya,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Binton menegaskan bahwa semangat Kartini harus terus hidup dan bertransformasi sesuai perkembangan zaman.
“Makna perjuangan Kartini hari ini adalah bagaimana perempuan mampu menguasai teknologi, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi nyata. Dari situlah kota yang inklusif dan berdaya saing akan lahir,” pungkasnya.(Ht)








