Gen Z Ubah Limbah Sorgum Jadi Biobriket Ramah Lingkungan, Mahasiswa UPER Tembus Startup Nasional

IMG-20260203-WA0007

JAKARTA| FOKUSKOTA.COM – Di tengah stigma Generasi Z sebagai generasi konsumtif, dua mahasiswa justru membuktikan arah sebaliknya: menjadi pencipta solusi lingkungan. Ni Kadek Karina Dewi dan Haykal Sulthan Hakeem, mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina (UPER), mengembangkan inovasi biobriket berbahan limbah sorgum bernama Bionghum Patalabana — produk energi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi tinggi.

Fenomena ini sejalan dengan perubahan perilaku generasi muda global. Survei Deloitte (2025) mencatat 65 persen Gen Z khawatir terhadap kondisi lingkungan, sementara di Indonesia angkanya melonjak hingga 89 persen. Laporan First Insight (2024) bahkan menunjukkan mayoritas Gen Z mulai mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam keputusan ekonomi, dengan 73 persen bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan.

Bionghum lahir dari persoalan klasik sektor pertanian: limbah pascapanen sorgum yang dapat mencapai 40 ton residu per hektare dan selama ini belum dimanfaatkan optimal. Melalui inovasi tersebut, limbah diolah menjadi biobriket yang mampu menggantikan arang konvensional.

“Tujuan kami bukan hanya mengurangi limbah, tapi mengubahnya menjadi sumber energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi bagi petani,” ujar Karina.

Secara teknis, Bionghum menghasilkan emisi karbon 32 persen lebih rendah dibanding arang biasa. Daya bakarnya pun lebih efisien — mampu menyala hingga dua jam, dua kali lebih lama dari arang konvensional. Produk ini dirancang dengan pendekatan circular economy, carbon offset, dan konsep sustainable socio-ecopreneurship yang melibatkan petani sebagai mitra produksi.

Hingga kini, tim telah bermitra dengan tiga kelompok petani sorgum di Bali. Dampak ekonominya signifikan: pendapatan petani disebut meningkat hingga 40 kali lipat per bulan setelah limbah diolah menjadi produk bernilai jual.

“Bukan hanya pendapatan yang naik, tapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan pengolahan pascapanen, dan memperkuat posisi petani dalam rantai energi bersih,” tambah Karina.

Inovasi ini membawa tim mahasiswa UPER tersebut menembus Final Pitch Top 7 Early Stage Startup ajang Pertamuda Seed and Scale 2025, program inkubasi wirausaha muda PT Pertamina (Persero), setelah bersaing dengan ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari ekosistem inkubasi bisnis kampus yang konsisten dibangun sejak 2016.

“Mahasiswa kami didorong untuk tidak berhenti pada ide. Mereka harus mampu mengubah gagasan menjadi solusi nyata. Bionghum adalah contoh bagaimana inovasi mahasiswa bisa menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Universitas Pertamina sendiri terus memperkuat program inkubasi bisnis dengan pendampingan mentor profesional, khususnya di bidang energi terbarukan, ekonomi sirkular, teknologi, dan industri kreatif. Kampus berharap lahir lebih banyak wirausaha muda yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekologis.

Bagi Karina dan tim, Bionghum bukan sekadar proyek mahasiswa. Ini adalah bukti bahwa Generasi Z bukan hanya konsumen masa depan — melainkan aktor utama dalam membangun ekonomi hijau yang berkelanjutan. (Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *