Bukan Sekadar Asuransi, Ilmu Aktuaria UPER Bidik Risiko Industri Energi

IMG-20261009-WA0015

JAKARTA | FOKUSKOTA.com –  Ketika investasi energi global terus membesar, risiko kerusakan aset, membengkaknya biaya pemeliharaan hingga gangguan operasional menjadi persoalan yang tak bisa diabaikan. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan percepatan transisi energi, kemampuan membaca risiko sejak dini semakin dibutuhkan industri.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan investasi energi global mencapai US$3,4 triliun pada 2026. Besarnya nilai investasi tersebut membuat pengelolaan risiko menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasional perusahaan energi.

Melihat kebutuhan itu, Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina (UPER) mendorong pemanfaatan ilmu aktuaria untuk membantu industri energi mengukur kemungkinan risiko sekaligus memperkirakan dampak finansial yang ditimbulkannya.

Pendekatan tersebut diperkenalkan UPER kepada pegawai perusahaan pengelola data minyak dan gas bumi (migas) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar pada 26 September 2026.

Ketua Program Studi Sains Aktuaria UPER sekaligus Ketua Tim PkM, Dr. Tasmi, S.Si., M.Si., mengatakan pendekatan aktuaria dapat membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan data, terutama dalam menghadapi risiko kerusakan aset.

“Pendekatan aktuaria membantu perusahaan mengukur risiko kerusakan aset, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan langkah pencegahan berdasarkan data,” ujar Dr. Tasmi.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah survival analysis, yakni metode statistik untuk memperkirakan berapa lama sebuah peralatan dapat berfungsi sebelum mengalami kerusakan.

Sebagai contoh, data mengenai usia pompa, jadwal perawatan dan riwayat kerusakan dapat dianalisis untuk mengetahui peluang pompa tetap beroperasi dalam periode tertentu. Informasi tersebut dapat menjadi dasar perusahaan menentukan aset yang harus diprioritaskan untuk pemeriksaan atau perawatan serta mempersiapkan anggaran penggantian sebelum kerusakan mengganggu operasional.

Tak berhenti pada kemungkinan terjadinya kerusakan, pendekatan aktuaria juga dapat digunakan untuk menghitung konsekuensi ekonomi dari pilihan pemeliharaan maupun penggantian aset.

Dalam kegiatan tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul sebagai acuan bagi perusahaan dalam melakukan analisis risiko keuangan.

Dr. Tasmi menjelaskan, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dynamic programming, terutama ketika perusahaan harus menentukan apakah akan mempertahankan mesin lama atau menggantinya dengan mesin baru.

“Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional,” jelasnya.

Melalui model tersebut, perusahaan dapat membandingkan berbagai pilihan selama beberapa tahun ke depan, termasuk memperhitungkan nilai jual mesin lama. Dengan demikian, keputusan penggantian aset tidak hanya berdasarkan kondisi teknis, tetapi juga mempertimbangkan dampak finansialnya.

Perkuat Koneksi Kampus dan Industri
Kolaborasi melalui PkM tersebut sekaligus menjadi ruang bagi UPER untuk memahami persoalan manajemen risiko yang dihadapi industri secara langsung. Dari sana, ilmu aktuaria dapat dikembangkan agar semakin relevan dengan kebutuhan sektor energi.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan keterhubungan antara keilmuan dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di sektor energi.

“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, pengembangan Sains Aktuaria melalui peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.

Melalui pendekatan berbasis data dan pengukuran risiko, ilmu aktuaria diharapkan tidak lagi dipandang terbatas pada industri asuransi, tetapi juga menjadi salah satu instrumen pendukung dalam menentukan strategi pemeliharaan aset, investasi, hingga keberlangsungan operasional industri energi.(Ht)

Facebook
Pinterest
X
LinkedIn
Email

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *